29 Diksi Paling Memikat dalam Buku Dua Dini Hari

Apa yang membuatmu jatuh cinta pada sebuah buku? 
Karena judulnya? 
Pesan di dalamnya? 
Cover-nya yang aku banget? 
Atau diksi-diksi memikat di dalamnya? 
Nah, kali ini saya akan mengupas diksi memikat dari salah satu buku favorit saya. Judulnya Dua Dini Hari ditulis oleh Chandra Bientang. Diterbitkan pada Agustus 2019 oleh Penerbit Noura Books, PT. Mizan Publika setebal 248 halaman. 
Selain diksi-diksinya yang memikat, ada dua hal utama yang membuat buku ini terasa berbeda. 
Pertama ada pada Plot twist yang cukup membangkitkan rasa gemas, pembaca dibuat terkecoh 180 derajat dari apa yang sudah berhasil dikumpulkan dalam imajinasi selama proses membaca. Plot twist yang sempurna. 
Kedua, cerita ini mempunyai pesan kuat tentang kesemrawutan masalah Ibu kota, masalah yang terbilang klise namun belum juga menemui jalan keluarnya. Tentang sebuah rasa peduli yang mulai terkikis sebagai akibat modernisasi, kepentingan yang mengesampingkan rasa kemanusiaan. 
Diantara dua hal itu, diksilah yang menjadi satu hal yang paling memikat dan mendorong saya menandainya dengan tekun. 
Berikut 29 diksi paling memikat dalam buku Dua Dini Hari : 
1. Api mungil itu memercik riang. Pendar merah mulai merekah di ujung rokok, menyulut euphoria pada lekuk wajahnya. Seperti orang yang baru makan setelah berhari-hari menahan lapar, dia menghisap dalam-dalam kehangatan itu, mengisi kekosongan di dadanya. (Cara unik untuk menggambarkan seorang perempuan yanh sedang menyulut rokok lalu menghisapnya).
2. Gejolak asam menendang-endang dalam perutnya.
3. Dia spesies baru yang kebetulan terempas. 
4. Kipas angin malang itu sudah sekuat tenaga menjalankan tugas. 
5. Pertengkaran dalam dinamika hubungan Ayah dengan anak lelaki itu lumrah, selumrah dinamika harga cabai yang naik turun. 
6. Jarum jam bergeser ke angka empat. Cahaya lamat-lamat beranjak ke barat. 
7. Terik sudah berubah kelabu. Mendung kini membayangi langit Jakarta, tampak mengancam dengan jajaran awan yang berarak cepat. Lampu-lampu sudah mulai menyala. Maghrib menjelang. Guruh mengentak angkasa. 
8. Tik! Jarum panjang baru saja menjentik angka dua belas, dan pasangannya menunjuk tepat ke angka enam. (Cara menyebut jam 6 aja keceh begini ya…). 
9. Jika umur sudah tua, orang jadi semakin tahu pentingnya berbagi, orang jadi semakin memiliki rasa kasihan. 
10. Keheningan yang ganjil itu berdengung memusingkan di gendang telinga. 
11. Lalat itu jatuh ke atas meja. Kaki-kakinya seperti jarum, bergerak kalang kabut, berusaha bangkit lagi. Berusaha tetap hidup, Namun, lambat laun dia melemas, meregang hingga kehabisan asa. Mati. Seandainya dia tahu malam itu adalah kali terkahir dia terbang. (Menjelaskan masa yang hampir habis tanpa ada aba-aba sebelumnya, menggunakan lalat sebagai analogi. Ini cerdas!). 
12. Gue nggak tahu orang-orang itu sebenernya kayak apa dalemnya, di otak mereka itu sebenernya ada apa!
13. Di satu sisi, perempuan itu tampak gundah, kesepian, kusut, butuh bicara, tetapi di sisi lain dia juga tak acuh kepada dunia. 
14. Dia tidak yakin itu semua murni ingatan atau sudah bercampur dengan pintalan imajinasi. 
15. Dia menjelajahi seisi kafe untuk menilai orang-orang di dalamnya, seolah hendak mempreteli tiap lapisan kulit mereka, melihat apa yang mereka sembunyikan. 
16. Otaknya serabutan, pencerahan dan ketidaktahuan membaur. 
17. Satu lagi api jiwa telah meninggalkan cangkang fananya. (Menggambarkan ruh yang baru saja meninggalkan tubuh yang tak kekal). 
18. Melihat kematian adalah hal yang absurb. Tidak ada apa pun, hanya kekosongan. Atau, mungkin rasa itu ada haya saja tidak terjembatani sehingga tidak bisa diberi nama. 
19. Tidak ada yang tahu hari esok seperti apa, dan ketidaktahuan itu berujung kepada rasa sakit yang menyesakkan. 
20. Tak ada yang bisa dilihat selain warna dinding yang mengusam dirayapi waktu. 
21. Hidup memaksanya untuk memilih, untuk berputar haluan sebelum terlambat. Dan, di sinilah dia. 
22. Tanpa dia sadari waktu ikut melarut dan selaput jelaga telah terbentang di langit. 
23. Rahasia bukanlah kebohongan. Rahasia adalah hal yang tak terucapkan, bukan kebohongan. 
24. Emosi adalah salah satu faktor pengganggu, seperti cairan kental dalam tubuh yang menyebarkan racun. 
25. Kematian dan kehidupan adalah dua realitas yang tak terpisahkan. Kematian adalah bagian dari kehidupan. Atau, jangan-jangan kehidupanlah yang merupakan bagian dari kematian. Keduanya terus berputar dalam lingkar spiral yang merenggang dan merapat bergantian. Manusia bukan perancangnya, dibilang pemain juga bukan, sebut saja korban yang tahu-tahu ada di dalamnya. (Ibarat hidup mati anak-anak jalanan, realita yang ajaib, mereka korban yang seketika sudah ada di sana). 
26. Semua ada alasannya. Ada sebab akibat yang merangkai segalanya. 
27. Kesunyian merayap, mengikis waktu. 
28. Kesalahan adalah keistimewaan yang hanya dimiliki manusia. (Ini diksi terfavorit saya, terdengar manusiawi, membumikan kita para manusia). 
29. Yang telah dilihatnya tidak bisa dia hapus. Yang telah didengarnya tidak bisa dia enyahkan. Yang telah hitam tak bisa lagi diputihkan. 
 *** 
Wah, keren-keren kan diksinya, sama kerennya dengan penulisnya. Kami bertemu dalam satu perhelatan Literasi terbesar di Bali yaitu Ubud Writers and Readers 2019. Chandra Bientang adalah salah satu Emerging Writers yang terpilih tahun itu. Perkenalan kami berlanjut saat saya mengajukan permintaan tukar karya. Saya mengirimkannya buku saya yang berjudul Dari High Heels ke Sendal Jepit, dan dia mengirimkan saya buku Dua Dini Hari lengkap dengan kata-kata cantik yang dibubuhi tandatangannya. Beruntung banget saya nggak ditolak saat meminta tukar karya hehehe, Thanks GOD, She is so humble. 🙂

It’s a recomended book buat kalian penyuka Genre Thriller.
Nah, kira-kira teman-teman ada nggak yang suka mengamati diksi seperti yang saya lakukan?  
Share on twitter
Share on linkedin
Share on email
Share on whatsapp
Share on facebook

3 replies on “29 Diksi Paling Memikat dalam Buku Dua Dini Hari”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

About

Seorang penulis harus menemukan satu alasan kuat yang dapat mematik semangat menulisnya. Jika tidak, pena itu akan berhenti dan tintanya akan mengering tergerus waktu.

About

Newsletter