The Devil Wears Prada; dari Fashion hingga Keberanian Memilih

The Devil Wears Prada; dari Fashion hingga Keberanian Memilih post thumbnail image

Entah angin apa yang tiba-tiba mengingatkan saya pada sebuah judul film Hollywood lawas, The Devil Wears Prada. Film yang tanyang sekitar empat belas tahun lalu, tepatnya di 2006, merupakan salah satu yang berhasil menyedot perhatian saya dengan menontonnya lebih dari enam kali. Kenapa? Ada apakah dengan film itu?

Bila diperhatikan, judulnya saja sudah bermakna kiasan. Tentang seseorang yang kejam terkelabui dengan penampilan glamour-nya berbalut Prada.

Dua hal paling memikat dari film ini. Pertama dari kekuatan masing-masing karakter memainkan perannya, emosi yang tidak hanya tempelan, tapi melebur jadi satu dan memengaruhi saya sebagai penonton. Di sana ada Anne Hathaway sebagai Andrea Sachs (Andy) berprofesi sebagai Junior Personal Assistant dari Meryl Streep sebagai Miranda Priestly, seorang Editor in Chief majalah fashion terkemuka, Runway Magazine. Kombinasi mereka berdua ibarat musang dan buruannya, lalu kemudian berubah menjadi satu tim yang kompak. Meski musang tetaplah musang dengan semua kelicikannya.

Kedua, selain emosi para pemain, di sana ada pesan tentang keberanian perempuan dalam menentukan pilihan. Sebuah keputusan besar yang akhirnya merubah arah hidup seorang Andrea Sachs.

Terkadang memilih menjadi sesuatu yang sulit, khususnya bagi kita kaum perempuan yang seringkali mengikuti emosi, mudah terbawa perasaan, rasa sungkan terhadap teman, termasuk rasa tidak enak hati terhadap tanggapan keluarga dan orang-orang di sekeliling terhadap keputusan yang kita ambil.

Perasaan vs logika memang menjadi bahasan tak berujung. Karena secara harfiah perasaan masih sering didengarkan ketimbang sisi rasional. Akan tetapi, lingkungan tempat perempuan itu dibesarkan, cara mereka dididik, sangat membawa pengaruh terhadap sisi rasionalitasnya dalam bertindak.

Bila seorang berfikir lebih dalam dengan kontes #selfcare harusnya keputusan adalah otoritas milik dan hak mutlak diri kita, tentunya dengan melewati pertimbangan dan tidak gegabah.

Dalam hal ini sosok Andy yang baru saja menjabat sebagai Senior Personal Assiatant menggantikan rekannya Emily Charlton, berani mengambil keputusan untuk keluar dari jabatan prestige-nya setelah mendapati kenyataan kalau Miranda melakukan banyak intrik, kelicikan demi mempertahankan jabatannya sendiri di Runaway.

Andy yang awalnya memuja Miranda sebagai sosok yang cerdas, mandiri, disiplin, tegas, perfectionist, jadi teramat kecewa saat mengetahui akibat kelicikan Miranda mengorbankan Nigel, Art Director yang telah mengabdi di Runway selama belasan tahun. Andy tak bisa lagi mentolerir semua itu, dia tak sudi bekerja dengan seseorang yang mungkin saja mengorbankannya kelak.

***

Bayangkan, kalau kita ada di posisi Andy lalu menerima aja kondisi itu dan berfikir, “Toh udah punya posisi tinggi yang lain bukan urusan.” Wah, pastinya orang seperti Miranda akan merajalela dan banyak Nigel lain yang jadi korbannya.

***

Kira-kira apa saja yang membuat seseorang takut menentukan pilihan.

  1. Takut menerima akibat dari pilihannya.
  2. Takut keliru memutuskan.
  3. Sulit beradaptasi dengan perubahan.
  4. Terlalu nyaman dengan kondisi saat ini
  5. Berada di lingkungan yang tidak tepat

Baca juga artikel Ikuti Hatimu (Follow your heart)

Ketakutan memilih mungkin saja serupa signal yang tak lebih dari sekadar pengingat, bukan untuk membiarkan diri lebih dikuasai Devil berbalut Prada.

Oleh : Mina Megawati

6 thoughts on “The Devil Wears Prada; dari Fashion hingga Keberanian Memilih”

  1. Latar film ini pada saat majalah fashion sedang berkuasa. Nah kalau sekarang posisinya sudah digantikan oleh selebgram, youtuber dan sejenisnya, ya

  2. tari says:

    jadi inget serial netflix lucifer (kalo gak salah). ganteng2 iblis. byk yg suka dan emg menarik filmnya, tp klo dianalisis dr segi agama keknya nyesatin. mudah2an film yg ini nggak ya!

  3. Fadli Hafizulhaq says:

    Sebuah pilihan memang selalu diikuti dengan banyak konsekuensi ya Mbak, bahkan memilih tetap di zona nyaman sekalipun juga ada konsekuensinya

  4. Baru tauu film itu malah nih, makasih utk reviewnya mbak. Relate banget sama kondisi kebanyakan orang saat ini, berharap sosok2 seperti Miranda di dunia nyata itu tobat ya mbak hehehe

  5. Udah lama banget nih pengen nonton juga kerjaan semakin menumpuk baca ini jadi pengen refreshing nonton film

    1. mega says:

      Bener banget bun. Film kadang datengin ide2 baru. Next sy mau share ada beberapa film yang relate sama dunia penulisan. Take care bundaa ^__^

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Post