Buku; Tentang Jejak Hidup dalam Kata

Buku; Tentang Jejak Hidup dalam Kata post thumbnail image

Di Ibukota, ada yang sedang menyibukkan dirinya membicarakan hal-hal remeh. “Kamu  nongkrong di mana? Mewahkah? Mall atau kaki lima?” pembahasan yang sempat menyedot perhatian publik. Pengguna sosial media pun tergerak berkomentar, ada yang terbawa emosi, ada yang menyandingkan dengan video lain, tapi ada juga yang memilih pasif.

Keputusan untuk membuat prestasi atau sensasi mutlak di tangan kita. Namun, apa tak lebih baik melakukan sesuatu yang jauh lebih manfaat. Seperti menulis buku, merekam jejak hidup dalam kata, yang kelak bisa meninggalkan sesuatu untuk dikenang.

Buku juga merupakan media tak lekang waktu yang bisa dimanfaatkan untuk menitipkan kesan dan pesanmu tentang hidup.

Delapan buku berikut merekam jejak hidup penulis:

Buku Pertama – Sepaket Kisah untuk Diriku yang Baru

Selalu ada yang  pertama, kesannya begitu melekat. Buku ini menjadi awal proses menulisku. Bersama Good Writer Club (GWC) yang digawangi anak muda berbakat Saskia Ratry Arswie kami bersama 21 teman dengan niatan yang sama berhasil merampungkan naskah di akhir tahun 2017. Proses panjang yang menjadikan buku ini terbit pada awal 2018 oleh Ellunar Publishing.

Buku Kedua – Panggilan Hati untuk Ibu Pertiwi

November 2017 bersama teman-teman KETIK (Kelas Artikel sesi 7-8), kami terpilih untuk menulis antologi bersama. Lima puluh peserta wajib melewati seleksi menulis rutin selama 14 hari itu menyisakan kurang dari separuh sekitar 23 orang.

Bagi orang awam dibidang tulis menulis, tantangan 14 hari rutin menulis menjadi hal berat. Ketidakpahaman merealisasikan ide, memulai kata pertama, menjaga konsistensi jadi kendala yang menguji diri. Buku ini terbit awal 2018 oleh Inspirator Academy.

Buku Ketiga – Perjalanan

Perjalanan, “Karena arah langkah memiliki arti.” Buku antologi yang ditulis bersama 20 teman pada awal 2018. Kami memaknai perjalanan dengan sudut pandang yang berbeda, namun dengan tujuan yang sama. Perjalanan adalah perpindahan lahir batin yang dilakukan manusia secara sadar menuju satu tujuan dengan maksud tertentu. Perjalanan dari anak manusia bagai dua sisi mata uang yang berisi hikmah, pelajaran,dan pengalaman. Seperti kata peribahasa Latin kuno, “Verba volent scripta manen – Apa yang terkatakan akan segera lenyap. Apa yang tertulis akan menjadi abadi.” Buku ini terbit tepat dipenghujung tahun 2018 oleh Litera Mediatama.

Buku Keempat – Karena Tuhan Tidak Tidur

Istiqomah menulis selama 30 hari di bulan Ramadhan menjadi penanda lahirnya buku keempat, Karena Tuhan Tidak Tidur diterbitkan oleh One Peach Media pada September 2018. Dari 150 peserta hanya 50 orang berhasil lolos seleksi. Proses 30 hari menulis ini terbukti bisa melatih konsistensi diri.

Buku Kelima – Bunda, Yuk Resign Tanpa Ragu

Pembaca yang cermat pasti sudah bisa memaknai judul yang tersirat pada cover depan buku ini. Ya, di dalamnya berisi  latar belakang dan perjalanan pelik penulis dalam dilema hati. Buku solo pertama yang cukup menguras tenaga dan pikiran selama 60 hari. Tawa, haru mewarnai proses menulis yang juga sebagai awal dengan status baru sebagai ibu rumah tangga penuh waktu, bukan lagi pekerja kantoran. Buku ini terbit Oktober 2018 oleh Raditeens.

Buku Keenam – Dari High Heels ke Sendal Jepit

Buku ini menjadi buku solo kedua sekaligus buku keenam. Ilustrasinya oleh Ibu Dian Hadiani dan diterbitkan pada Desember 2019 oleh CV. Lit Hidup – Bali.

Dari High Heels ke Sendal Jepit berisi kisah pribadi penulis dan delapan perempuan yang memiliki kesamaan nasib. Tentang proses pelik di balik sebuah pilihan. Kami menjadi perempuan yang memutuskan meninggalkan karir demi satu hal yaitu hadir utuh untuk mereka yang dicintainya.

Ilustrasi dan gaya penulisan menggambarkan kejadian demi kejadian hidup yang dilalui penulis. Proses menulis selama enam puluh hari yang terbilang padat, diisi dengan pencarian data berupa foto-foto masa kecil dan foto aktivitas sekitar tahun 1990-2018 dan mewawancarai delapan perempuan dengan berbagai latar belakang.

Buku Ketujuh – Warna-Warni Kisah Bunda

Rezky Firmasnyah menjadi salah satu penggagas antologi khusus memperingati hari Ibu. Proses mengumpulkan tim menulis, menentukan tema, dan menulis itu sendiri menghabiskan waktu sekitar tiga bulan sejak Oktober 2019. Buku yang berkesan karena isi yang membahas ibu, ibu dan ibu kasihmu sungguh berwarna.

Buku yang diterbitkan pada hari Ibu, 22 Desember 2019 oleh SIP Publishing.

Buku Kedelapan – Melepas Luka

Apa yang ada dipikiranmu ketika mendengar kata, “Melepas Luka?” Ya, antologi ini membahas tentang luka batin. Luka yang mungkin berusaha dilupakan, namun dia masih ada di relung hati lalu meninggalkan trauma mendalam.

Buku yang terbit di Desember 2019 oleh Vamedia ini dibina oleh Mbak Nurindah Fitria juga merupakan seorang Psikolog. Inisiatif baiknya ini menyadarkan kami bahwa luka batin itu ada.

***

Delapan jejak kata yang InsyaAllah akan meninggalkan manfaat.

Bagaimana denganmu, jejak hidup apa yang kelak akan kamu tinggalkan?

oleh: Mina Megawati

18 November 2020

13 thoughts on “Buku; Tentang Jejak Hidup dalam Kata”

  1. Masyaallah, buku2nya keren2. Temanya menarik untuk dibaca. Terus produktif ya Mbak. Ditunggu kelahiran buku2 barunya.

    1. mega says:

      Makasih Mba…
      Alhamdulillah lingkungan dan support system mendukung lahirnya buku2 itu. Sukses buatmu juga ya Mbaaa 😉 ^_^

  2. tari says:

    aku gak punya alasan yg bisa diterima kenapa mentok cuma punya 3 buku pribadi. jd kalo baca yg begini, terinspirasi utk sesaat. kemudian … dilupakan. dasar aku!

    1. mega says:

      Ya Allah 3 buku itu kerennn, Mba. Ada yang terseok untuk bisa publish 1 buku. Tetap semangat mbaa, InsyaAllah ke depannya terbuka jalan untuk buku ke 4 dst Aamiin… ^_^

  3. Amanda ratih says:

    Buku2nya udh bnyk bgt mbaa.. Semoga makin semangat ya untuk selalu nulis kedepannya

    1. mega says:

      Aamiin, Mba…
      Makasih ya semangat untukmu juga. Yang terpenting kita menghargai proses yg bikin buku itu kelar. Terutama proses nulisnya, hehehe #cuhat

  4. Masyaallah tabarakallah! Semoga penuh manfaat karyanya, Bunda! Keren…

  5. Milda Ini says:

    baca ini jadi ingat draf yang entah sudah sangat lama tidak saya buka, hehehe. moga tahun depan ada semangat baru

  6. Fadli Hafizulhaq says:

    Wah, banyak ya mbak. Saya pribadi baru bisa ikut dalam sedikit buku antologi, entah 1 atau 2, tepatnya saya lupa. Pengen nulis buku lagi jadinya

  7. Sultan says:

    Hebatnya perjalanan kata ini. Ini jelas lebih lekang dari sekadar bicara. Buku memang teman terbaik sepanjang masa….

  8. keren, mbak sudah banyak bukunya. ada buku solo juga.

  9. Nufazee says:

    MasyaAllah Mbak, banyaknya karyamu, duh aku jadi rindu melahirkan buku lagi huhu

    1. mega says:

      Semangat yuk, Mba. Insyallah kita jadikan plan 2021. Aamiin 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Post