9 Penyebab Tulisan Nggak Kelar

9 Penyebab Tulisan Nggak Kelar post thumbnail image

Manusia berhak punya keinginan. Seperti ingin menerbitkan buku ataupun menjadi seorang blogger. Semuanya sah saja, asalkan penuhi dulu satu syarat utama yaitu harus bisa mendaki gunung Rinjani, eh nggak bercanda, hehe..

Syaratnya cuma satu yaitu kamu harus punya tulisan. Tulisan yang nggak setengah-setengah, yang nggak putus di tengah jalan, yang tuntas, selesai, utuh dan bisa dinikmati pembaca.

Makin tingginya sebuah keinginan harus diiringi dengan usaha yang baik juga dong ya. Agar tak nelangsa karena keinginan tidak kunjung kesampaian, coba cek sembilan penyebab tulisanmu nggak kelar. Jangan-jangan kebiasaan itu yang menghambat kemajuanmu.

Berikut 9 Penyebab Tulisan Nggak Kelar :


Ideku Nggak Oke!

Saat memikirkan sebuah ide, kita cenderung memikirkan sesuatu jauh, yang bombastis, yang berbeda, unik dan keren.

Padahal ide tulisan bisa datang dari hal kecil, sesuatu yang dekat dengan kita, seperti lingkungan rumah, keluarga, pekerjaan, hobi, study yang sedang dijalani sampai kesulitan dan kesedihan yang membelit.

Gonta ganti ide hanya membuat tulisanmu nggak pernah dimulai. Dimulai aja nggak apalagi dikelarin, hehehe. Selain itu, kurang peka dengan sekitar juga menjadi penyebab ide sulit didapat.

Peka menjadi kunci penting bagi mereka yang ingin menulis atau jadi penulis. Kepekaan dapat membantu penulis dalam mendatangkan ide, mengembangkan ke dalam bentuk tulisan sampai selesai.

“Agar otak mudah menjala ide, maka perlu membiasakan untuk berpikir, merenung serta membaca situasi dari fenomena apapun.” (Dian Nafi)

Sering Menunda

Terlalu sering buka media sosial seperti membaca status, menghitung banyaknya like, bacain komen, jadi penyebab penulis menunda untuk memulai tulisannya. Penundaan seperti itu sering tidak disadari karena penulis sibuk mengurusi urusan lain yang jauh dari urusan tulis-menulisnya. So, be focused.

“Jangan beri kesempatan pada diri sendiri untuk menunda-nunda sesuatu yang harus dilakukan. Pastikan untuk segera bertindak seperti yang telah Anda putuskan! Action is power!” (Andrie Wongso – Motivator)

Takut Reaksi Pembaca

Netizen adalah kumpulan orang-orang yang selalu merasa benar. Mereka menganggap opininya yang paling pantas untuk didengar dan wajib untuk diikuti. Komentar buruk terhadap suatu karya tulis bisa memengaruhi mental penulis saat hendak memulai tulisannya.

Ibarat pepatah, “Menyerah sebelum berperang,” takut menulis padahal mulai aja belum. Karena bisa saja netizen yang berkomentar itu belum membaca tuntas tulisan kita atau bisa saja mereka tak paham apapun tentang tulisan.

“Jika kau menghamba kepada ketakutan, kita memperpanjang barisan perbudakan.” (Wiji Thukul – Penyair, Aktivis HAM)

Overthinking & Perfectionist

Overthinking yang dipahami sebagai sikap yang berfikir berlebihan dan terlampau jauh, mulai dari masalah sepele sampai masalah yang besar, dari masa lalu hingga masa depan. Semua dipikirkan secara berlebihan.

Perfectionist, satu sikap yang menuntut untuk menjadi sempurna, untuk mencapai kondisi terbaik, dari segi fisik maupun materi. Selalu mengejar kesempurnaan dan berfikir berlebihan bisa jadi alasan penulis menunda aksinya. Baru mulai menulis satu kalimat udah berfikir “Gimana nanti yang baca ya? Duh kalimatnya kok begini?” dan sederet keragu-raguan lainnya.

Dua sikap yang bila saja ditempatkan sesuai porsinya, akan membuat penulis makin produktif menghasilkan karya-karya apik. Seperti kata Donnalynn Civello, seorang inspirational blogger,

Find the perfection in every moment instead of trying to make every moment perfect.” 

“Temukan kesempurnaan di setiap momen daripada mencoba membuat setiap momen sempurna.”

Seperti halnya tulisan, terus mengejar kesempurnaan hanya membuatmu terjebak dalam ruang pemikiran yang berlebih dan membuatmu tidak pernah menyelesaikan tulisanmu.

Lelah Fisik dan Pikiran

Kelelahan akan membuat aktivitas terganggu dan sulit berkonsentrasi. Lelah juga memicu keengganan berfikir berat yang cukup menguras energi. Modal awal untuk menulis adalah energi tubuh dan pikiran yang optimal, apalagi kalau tulisan tersebut memerlukan riset. Jadi, kalau niatmu ingin menulis cukup besar, mulailah untuk menjaga energimu dengan baik.

“Jangan takut lelah. Rehat dan kembalikanlah semangat itu.”

Mood

Mood adalah keadaan emosional yang bersifat sementara. Mood bisa bernilai negatif atau positif. Masalah mood masih menjadi masalah bagi para penulis. Kondisi yang dituduh sebagai penyebab writer block dan membuat penulis tak menghasilkan meski satu kalimat pun.

Ada beberapa cara yang bisa ditempuh untukmu yang kehilangan mood menulis. Pertama, dengan memalingkan diri mencari kesenangan dengan membaca genre berbeda dari yang ingin kamu tulis. Itu untuk mencari suasana baru yang bisa menyegarkan otak. Kedua, saat mood turun, mulai saja dengan menulis apa yang dirasakan, bahkan menulis kebingungan yang dirasakan bisa membantu melepas keruwetan dan membuat mood membaik. Ketiga, makan makanan yang mengandung gula, makanan manis juga bisa mengaktifkan pusat kesenangan otak, meningkatkan produksi hormon dopamine, yang dapat membuat seseorang merasa bahagia setelah mengonsumsinya.

Kurang Membaca

Membaca ibarat mengisi bahan bakar ke dalam pikiran, sedangkan menulis mengeluarkan yang ada di pikiran. Nggak ada yang dimasukkan (bacaan), lalu apa yang mau dikeluarkan (tulisan)?

Membaca pun ada triknya. Kamu bisa memilih bacaan hanya sebatas tulisan yang ingin kamu buat. Misalnya ingin menulis cerpen, kamu bisa mulai dengan membaca ragam cerpen dari penulis lain. Itu bisa membantumu untuk tahu cara mengembangkan ide cerita, menajamkan konflik dan membuat ending yang memikat.

Bisa juga mengikuti cara Dee Lestari, beliau penulis fiksi yang menjadikan nonfiksi sebagai asupan bacaan sehari-harinya. Buku-buku genre itu dianggapnya bisa mendukung proses riset untuk memperdalam penulisan fiksi ilmiahnya.

ePILOG, oleh Putu Fajar Arcana

Contoh lain, kalau kamu menyukai tulisan yang lebih serius seperti esai, bacaan dari media-media online cukup membantu proses kreatifmu seperti kompas dan tempo.com. Esai milik Putu Fajar Arcana dan Goenawan Mohamad patut dimasukkan dalam daftar bacaan.

Kehilangan Motivasi

Menurut George Robert Terry seorang pakar Manajemen, motivasi adalah suatu rasa ingin yang ada di dalam diri seseorang yang merangsangnya untuk melakukan suatu tindakan.

Motivasi bisa datang dari dalam dan luar diri. Seorang penulis harus mampu menjaga motivasi dari dalam dirinya agar proses menulis bisa tetap berjalan konsisten.

“ Jangan tanyakan pada diri Anda apa yang dibutuhkan dunia. Bertanyalah apa yang membuat Anda hidup, kemudian kerjakan. Karena yang dibutuhkan dunia adalah orang yang antusias” (Harold Whitman – Jurnalis)

Ikut komunitas menulis, tapi kok pasif?

“Kata kuncinya adalah kita bisa! Dengan semangat kebersamaan, kita bisa lakukan apa aja”.

Bergabung dengan komunitas menulis bisa membantu penulis atau calon penulis mengembangkan kemampuannya. Lingkungan yang diciptakan komunitas seiring dengan visi keinginan kita, sehingga mendukung langkah kita dalam menekuni bidang tertentu. Idealnya seperti itu, tapi bagaimana kalau mereka yang gabung di komunitas, tapi kok pasif. Tidak pernah ikut kegiatan yang diadakan oleh komunitas dan memilih menjadi pendengar saja.

Alhasil, meski sepuluh tahun gabung komunitas tetap tidak ada hasilnya, ujung-ujungnya justru menyalahkan komunitasnya, hehehe. Introspeksi diri dan mulai aktif akan membantu penulis mendapatkan apa yang menjadi harapannya.

***

Semoga dengan deteksi 9 Penyebab Tulisan Nggak Kelar, bisa membantumu menemukan kelebihan dan kekurangan diri lalu mulai bergerak.

Selamat menulis…!

#ceritabunda #ibumenulis

27 November 2020

25 thoughts on “9 Penyebab Tulisan Nggak Kelar”

  1. Dedew says:

    Kalau aku, penyebabnya kayaknya karena sering menunda deh..kalau mau mulai nulis naskah buku itu pasti ada perasaan ragu, enggan memulai..emang harus kencangin lagi niatnya..

    1. mega says:

      Nah… bener Mbaaa, hobi nunda jadi habit yang bikin sakit… 🙂

  2. tari says:

    yg ke-10: belum ngopi!
    atau mau kayak aku aja, resign, trus nyari duit dr nulis. gak nulis gak jajan, autonulis terus tuh! wkwk

    1. Mega says:

      Mba Tari…. panutan iniiii 😍😍
      Semangat nulisnya ampuunn terus ON🤩

  3. Finaira Kara says:

    Aku masih sering kejebak di tipe perfeksionis, dan lelah fisik sama pikiran akibat riset terus demi si perfeksionis, sampai akhirnya lalai sama hal lain yang juga penting

    1. mega says:

      Riset dan menulis bisa berjalan beriringan, Mba. Kalau menanti hasil riset sempurna akan bikin kita nggak pernah mulai nulis. Semangat Mba Tari 🙂 🙂

  4. Perfeksionis itu yang agak susah dihilangkan. Rasanya tulisan itu harus sempurna terus, makanya susah selesai. Duh harus ditanggulangi ini ya.

    1. Mega says:

      Iya eee Mba… bagus satu sisi, tapi justru menghambat di sisi lainnya… #tepokjidat ^_^

  5. Mirna says:

    Beberapa mak jleb banget di aku, mbak. Gak mood, sering menunda, overthinking adalah hambatan yang sering banget aku alami. ><
    Lain kali, share juga gimana cara mbak membangkitkan mood atau menjaga motivasi, dong~

    1. mega says:

      3M Mba : Menyadari kelemahan diri, Menerima, lalu Mulai memperbaiki diri. Semangat Mba Mirna 🙂

  6. Azizah says:

    “Jika kau menghamba kepada ketakutan, kita memperpanjang barisan perbudakan.” (Wiji Thukul – Penyair, Aktivis HAM)

    Mak jleb😢

    1. mega says:

      Semangat terus Mba Zizah 🙂

  7. Fenni Bungsu says:

    Menunda kadang daku lakukan, apalagi pas harus milih mau mengerjakan yang mana dulu, alhasil iya dah ada aja yang nggak kelar tulisannya 🤦

    1. mega says:

      Menunda memang kadang nikmat ya, tapi jangan keseringan😅 #selfreminder

  8. Kalo saya bikin tulisan gak kelar biasanya karena ngga dapet “nyawa” nya
    Misalnya ada yang topik nya gue banget tapi mendadak stuck karena gak berhasil menemukan nyawanya

  9. Rafahlevi says:

    Aku banget tuh.. dulu suka overthinking duluan lom juga maju.karena ngerasa tulisan masih amburadul gak fokus. Jadinya yaa itu bener, tulisan kagak kelar-kelar. Tapi sekarang udah ga c, selalu dibawa enjoy biar learn by doing. Gaya tulisanku membaik seiring waktu

  10. Moch. Ferry says:

    Penyebab kegagalan menulis menjadi bahan penunjang untuk menulis dan berkarya, terus semangat menulis untuk kebaikan

    1. mega says:

      Semangat kakak🤩🤩

  11. Kalau sudah mentok, bosan atau gak mood untuk menulis, saya biasanya mengerjakan craft, nonton film, leyeh² dengerin musik atau ngobrol ngalor-ngidul dengan teman² dekat. Biasanya setelah itu semangat lagi buat nulis

    1. mega says:

      Nonton tuh asik banget kak, tapi sementara kudu dari rumah aja ya😄😄

  12. nurulrahma says:

    Whoaa, ini bahan instropeksi buat diriquuu mba
    makasii makasiii

    semangaattt buat jadi a better content creator yhaa

    1. mega says:

      Content creator🤩🤩 semangat kak terus menulis gaskeuuunn…

  13. Tanti Amelia says:

    aiiih ini mood booster buat para penulis pastinya mbak!
    Aku akhir akhir ini juga merasa tidak produktif, di tahun 2020 hanya menelurkan 5 buku antologi dan ilustrasi full untuk 1 buah buku online cerita anak versi Mendikbud,

    Untung 2 di antaranya gambar-gambarku ada di dalamnya, sehingga agak terhibur dengan demotivatednya aku

    1. mega says:

      Hanya 5 Antologi mba😮😮 itu mah kudu ucap syukur ya. Karena ada yang sulit meski hanya 1. Proses tulisan sampai jadi buku itu perjuangan banget dan tiap perjuangan harus ada apresiasinya. Semangat terus mbaaaa😍

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Post