Resensi Cerpen; Rokat Tase’

Resensi Cerpen; Rokat Tase’ post thumbnail image

Rokat Tase’ (tradisi petik laut), sebuah cerpen yang mengangkat lokalitas budaya nelayan Madura.

Cerpen Rokat Tase’ adalah salah satu dari dua puluh cerpen dalam Kumpulan Cerpen Rokat Tase’ diterbitkan oleh Penerbit Buku Kompas, 2020. ISBN : 978-623-241-207-1, karya Muna Masyari. Perempuan asal Pamekasan, Madura itu berhasil mengemas nilai-nilai tradisi dan budaya lokal daerah asalnya dengan ragam konflik serta kekuatan mitos beraroma mistis. Rokat Tase’ berarti sebuah selamatan laut dengan berbagai macam sajian.

Masyarakat sekitar meyakini upacara itu sebagai wujud rasa syukur dan simpul ikatan dengan laut. Tradisi yang ternyata tidak sepenuhnya diterima, ada yang memercayai tradisi itu sebagai simbul keamanan dan pembawa rezeki nelayan, tapi ada pula yang menilai tradisi semacam ini rentan menggelincirkan akidah.

Cerpen dengan memakai sudut pandang orang kedua, dari sisi perempuan Madura. Di sini dihadirkan konflik perbedaan kepercayaan antara mertua dan menantu. Menantu yang notabene seorang anak santri alim dari desa lain.

Perselisihan tak bisa dielakkan, keduanya laki-laki dewasa itu memegang prinsipnya masing-masing yang sama kuatnya. Sang ayah yang teguh mengikuti tradisi, sang menantu tetap kukuh tak mau mengikuti, menganggap upacara itu tak lebih dari kesia-siaan belaka.

Konflik bermula saat sehari sebelum perayaan Rokat Tase’, mereka (mertua dan menantu laki-lakinya) berselisih paham. Sang menantu memeringati mertuanya kalau upacara seperti itu hanya kegiatan mubazir, dan mengatakan kalau bentuk rasa syukur tidak harus dengan upacara seperti ini. Pemuda alim dengan kesantriannya yang baru genap 13 bulan menjadi menantu di rumah itu berhasil meluluhkan hati mertua sang gadis, meskipun bukan orang pesisir yang mengerti hidup dan tradisi nelayan. Dia juga yang membuat ayah sang gadis menolak tiga pinangan lain dan menerima pinangan pemuda itu.

“Bagaimanapun akan sulit membelok keyakinan nelayan bahwa sesajian itu mengandung berkah dan membuat ikan tangkapan kian melimpah. Gunakan cara tauhid untuk mempermudah datangnya rezeki! Bukan dengan menggelar rokat tase, apalagi adanya ludruk bercampur orkes dangdut yang jelas-jelas mengundang maksiat!” dialog menantu pada mertuanya.

“Kau jangan menggurui orang-orang sini. Tahu apa kau tentang keyakinan para melayan? Rokat sudah dilakukan nenek moyang jauh sebelum kau dating. Jadi tak perlu berceramah dan sok pintar!” Sahutan sang mertua tak kalah tingginya, dia menghardik menantunya.

Percekcokan yang membuat sang gadis tak berdaya, bingung hendak melakukan apa untuk mendamaikan ayah dan suaminya, orang-orang yang sama-sama ia sayangi, dilema.

Dia hanya mencoba menjelaskan apa yang membuat ayahnya sekukuh itu pada tradisi Rokat.

“Tidak mudah hidup sebagai nelayan. Menaklukkan ganasnya ombak bukan perkara gampang. Begitu layar terkembang, nyawa tergadai. Jika bernasib malang, petaka yang datang, nyawa pun melayang. Melaut adalah perkara bertahan hidup. Nyawa bersambung hingga putaran tahun suatu berkah yang wajib disyukuri. Memang begitulah cara nelayan menjalin ikatan dengan laut. Dengan menggelar rokat tase’ tiap tahun, mengharap keselamatan waktu berlayar sekaligus syukuran.”

Akhir cerita sama sekali tak tertebak. Muna Masyari menutupnya dengan ending terbuka. Berbagai rasa bercampur, antara penerimaan, perdamaian yang tak terucap atau mungkin lebih tepatnya penyesalan?

Cerpen ini recommended untuk dibaca terutama untuk kalian yang tertarik dengan segala sesuatu berlatar budaya, tradisi, dan kepercayaan yang masih dipegang teguh meski masa telah mengglobal.

Cerpen Rokat Tase’ ini pernah diterbitkan dalam Majalah Majas, edisi November 2018.

Baca juga cerpen berlatar budaya lainnya; Nasu Likku.

Mengawali bulan yang penuh berkah, 1 Desember 2020.

10 thoughts on “Resensi Cerpen; Rokat Tase’”

  1. Ahmad Afandi says:

    Ooww begini ya meresensi 😁
    Kren mbq bisa blajar sudut pandang meresensii, smangat trusss

    1. mega says:

      Sebenarnya bebas aja Ka, nggak ada pakem khusus. Resensi hanya berupa rangkuman kita setelah membaca, bisa juga dipadu opini. Semangat, Ka 🙂

  2. Finaira Kara says:

    Kayaknya buku ini cocok buat selera bacaku, haha. Meski aku suka baca apa saja, cuma sekarang lagi tertarik banget sama bacaan yang kandungannya budaya dan tradisi

  3. tari says:

    hebat penulisnya. aku belum berani membenturkan agama dan tradisi secara gamblang gitu. org2 pd sensi bacanya

  4. Cerpen ini cukup dekat dengan keseharian kita. Bagaimana kepercayaan kadang bisa menjadi sumber pertengkaran dalam keluarga. Akidah dan budaya sebaiknya memang diluruskan, agar tetap sesuai syariat.

  5. Dedew says:

    Bagus nih cerpennya mengangkat kearifan lokal dan budaya masyarakat tertentu, kita sekalian nambah pengetahuan ya

  6. Fadli Hafizulhaq says:

    Perselisihan paham antara mertua dan menantu memang umum terjadi Mbak. Tapi kalau kasusnya soal tradisi versus pemahaman agama begini, anak dan orang tua pun kerap berselisih. Saya jadi tertarik untuk baca cerpennya

  7. Mirna says:

    Ditulis dengan POV ke-2? Wah, menarik. Sangat jarang cerita ditulis dengan sudut pandang orang kedua. Jadi ingin membacanya. Apalagi dengan isu lokalitas dan budaya. Ending yang terbuka mungkin seperti menyerahkan ‘jawabannya’ kembali ke pembaca, ya.

  8. Nufazee says:

    Duh, memang tradisi dan agama sulit dikomunikasikan, apalagi sama orangtua, tapi bukan berarti kita gak bisa menyampaikannya dg lemah lembut jd ingat kisah Nabi Ibrahim dan ayahnya

  9. Koko Nata says:

    Sudah sering lihat Mbak Muna ini seliweran di feed FB-ku. Ternyata sdh punya buku yg diterbitkan Kompas, ya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Post