Resensi Cerpen; Saat Dibawa ke Ruangan Besar

Resensi Cerpen; Saat Dibawa ke Ruangan Besar post thumbnail image

β€œKata ibuku, pagi adalah hari yang paling dinantikan banyak orang di dunia. Tapi, aku dan teman-temanku di sini sepakat, kami benci pagi. Karena di waktu pagi, kami harus berpisah dengan ibu-ibu kami. Berpisah dengan orang yang paling kami sayangi.”

Kalimat pembuka dalam cerpen ini langsung menyentuh hati kami para ibu. Kata-kata yang lugu, tulus, jujur dari seorang anak balita yang berisi harapan tentang apa yang mereka inginkan, tapi tidak selalu bisa diungkapkan. 

Narator dalam cerpen ini menggunakan POV orang pertama adalah seorang anak balita. Usianya sekitar 4-5 tahun. Hal itu tergambar dari perilakunya yang masih sering menangis, minum susu menggunakan botol, menyukai makanan manis, tapi cukup pintar menanggapi kejadian di sekitarnya.

Kesan haru sekaligus tegang terasa saat membaca cerpen ini. Penulis menggambarkan kondisi kehidupan anak balita tersebut saat harus bolak-balik dititipkan di tempat penitipan anak. Tempat yang menjadi harapan ibu-ibu pekerja saat mereka beraktifitas. Sang ibu dalam cerpen ini disebutkan pernah menitipkan si anak di kampung bersama kakek neneknya. Namun apa daya anak balita tersebut tak mau berada jauh dari ibunya. 

Karena kondisi keuangan sang ibu harus bekerja di luar rumah tanpa adanya jeda atau hari libur. Itulah yang membuat sang anak dititipkan selama waktu sang ibu bekerja.

Si anak sedih melihat ibunya yang bersusah payah mencari nafkah demi dirinya. Ketidaknyamanan yang sering ditunjukkan terutama saat pagi hari. Itulah saat yang paling tidak disukainya.

Sosok ayah yang tidak digambarkan secara gamblang membuat pembaca menebak di mana sebenarnya sosok kepala keluarga yang seharusnya bertanggung jawab menafkahi istri dan anaknya itu.

Bagi kalian pembaca yang suka dengan plot twist di akhir cerita, bersiaplah untuk kecewa  ya karena gambaran akhir dari cerpen ini hampir dapat ditebak saat membaca delapan paragaraf terakhir. Sepertinya penulis punya tujuan tersendiri mengapa tidak meletakkan twist di akhir.

Tujuan utama dari cerpen ini adalah memberi gambaran, pelajaran baik atau tepatnya peringatan dini bagi kita para ibu.

Recomended untuk dibaca agar kita lebih berhati-hati, supaya anak-anak kita tidak pernah mengalami kejadian seperti anak balita dalam cerpen itu.

#Resensi Bunda di akhir tahun 2020.

Selamat Tahun Baru 2021. Selamat menjalani hidup yang lebih baik, dengan daya upaya yang makin hebat. Karena semua ibu itu memang makhluk hebat. Semangat Bunda ^-^

Baca juga Resensi Cerpen: Sendiri-sendiri

31 Desember 2020

19 thoughts on “Resensi Cerpen; Saat Dibawa ke Ruangan Besar”

  1. Moch. Ferry says:

    Resensi Cerpen; Saat Dibawa ke Ruangan Besar menarik untuk sebuah cerpen

  2. Jadi penasaran mba, 8 paragraf terakhir itu apa πŸ™‚ salam kenal mba Mina.

    Sebagai ibu bekerja kadang saya bingung menanggapi wfh karena pandemi. Senang karena di rumah, atau sedih karena wfh itu sebab pandemi.

    πŸ™‚

    1. Nah, aku juga punya pertanyaan yang sama, nih. Aih, kakaaaak, kenapa bikin kami jadi penasaran gini, sih? Ayo atuh, edit artikelnya, tambahin…. 8 paragraf terakhir itu apaaa? Hehe. Kepo akutu….

  3. Jadi penasaran mba, 8 paragraf terakhir itu apa πŸ™‚ salam kenal mba Mina.

    Sebagai ibu bekerja kadang saya bingung menanggapi wfh karena pandemi. Senang karena di rumah, atau sedih karena wfh itu sebab pandemi.

    :):)

    1. mega says:

      8 pragraf terakhir itu detik-detik puncak cerpen mbaa. Kudu baca sendiri biar kerasa seru sensasinyaπŸ˜„πŸ˜„ isinya pelajaran buat ibu2 yang suka nitipin anaknya…

  4. Dhenok says:

    cakep ya.. saya kok lama banget ga baca cerpennya republika. republika minggu masih terbit cetak, mom? apa online?

    1. mega says:

      Saya baca online di lakonhidup.com mom…

  5. Dian says:

    ah cerpennya menyentuh sekali ya mbak
    cerita dalam cerpenini sebenarnya juga banyak terjadi di kehidupan nyata

  6. Keke Naima says:

    Makanya di dalam dunia nyata pun suka terlihat anak yang menangis ketika ditinggal ibunya kerja. Mungkin mereka juga seperti membenci pagi, ya. Tetapi, ya mau gak mau harus seperti itu karena ibunya harus bekerja

    1. mega says:

      Bener bunda… kebutuhan mengharuskan sang ibu bekerja di luar. Semoga Allah memudahkan πŸ˜‡πŸ˜‡

  7. Ratna Kirana says:

    Baca ini jadi sedih dan baper teringat mama di rumah, kangeeeen banget karena COVID19 sulit bertemu hiks..

    1. mega says:

      Semoga setelah pandemi mereda, mba bisa ketemuan sama mama yaπŸ₯°πŸ₯°

  8. Oh cerpen di Republika ya Mbak?
    Bikin penasaran pingin baca
    Kalo buka Kompas atau Pikiran cetak minggu, yang saya cari pasti cerpen πŸ˜€πŸ˜€

  9. Ngambil POV dari bukan sosok umum (orang remaja/dewasa) tuh ga mudah, mendiskripsikan kebiasaan dan menterjemahkan perasaan nya
    Dengan tidak diceritakan secara gamblang tentang keberadaan ayah malah jadi bikin berbagai persepsi

  10. Susindra says:

    Unik karena menggunakan POV seorang anak balita.. pesannya akan langsung menancap ke pembaca yang notabene seorang ibu bekerja

  11. Nanik Nara says:

    Jadi ingat anak-anak saya. Malam sebelum tidur pasti bertanya “Mama besok ke kantor?” dan mereka akan senang sekali kala saya menjawab “mama besok libur”

  12. ria buchari says:

    baca cerpen ini jadi mengingatkan saya tentang sosok ibu, saya jadi kangen sama alm ibu. cerpennya menarik ini

  13. Baru baca uraian segini aja saya mendadak mengharu biru. Karena dulu ada teman sekantor saya yang hampir kehilangan nyawa anaknya di tempat penitipan. Si anak kerap diberikan obat tidur supaya diam selama dititipkan. Suatu saat over dosis dan sampai koma selama hampir 2 minggu. Sedih banget.

  14. Rika Widiastuti Altair says:

    Anak-anak punya rasa sendiri ketika harus ditinggal lama oleh orangtuanya. Mereka butuh kebersamaan dengan orangtua. Ahh…jd sedih membayangkan anak balita di cerpen ini. Terlebih di kisah nyata pun ini kerap ada.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Post