Resensi Novel : Pasung Jiwa – Manusia dan Sebuah Usaha Menemukan Kebebasan

Resensi Novel : Pasung Jiwa – Manusia dan Sebuah Usaha Menemukan Kebebasan post thumbnail image
Instagram mina.megawati

Kalimat kiasan yang menyebut, “Don’t judge the book by its cover,” nyatanya tak selalu benar. Kover tersaji sebagai penguat imajinasi pembaca tentang isi di dalamnya. Bukan sekadar pemanis apalagi pelengkap utuhnya sebuah buku.

Seperti halnya kover, judul pun menyimpan petunjuk. Dia harus mampu mengulik rasa ingin tahu pembaca. Ini yang kemudian membuat saya peka memilah buku yang laik untuk dibaca. Seperti halnya novel Pasung Jiwa, dua kata itu punya makna yang kuat. Ada pesan tersirat, ada belenggu perasaan, juga berbagai kejutan yang diselipkan penulisnya secara implisit.

Saat memutuskan membaca Pasung Jiwa, saya sedang berada dalam dua pilihan lain yaitu Entrok milik Mbak Okky Madasari dan Martabat Kematian karya Muna Masyari. Akhirnya pilihan pun jatuh pada Pasung Jiwa, bukan karena dua bacaan itu tak cukup memikat, tapi karena keterdesakan kebutuhan mencari jawaban atas kegelisahan diri.

Petikan kata pembuka yang ditulis Mbak Okky membuat saya urung menunda dan lanjut membacanya hingga tuntas, “Seluruh hidupku adalah perangkap. Tubuhku adalah perangkap pertamaku. Lalu orangtuaku, lalu semua orang yang kukenal. Kemudian segala hal yang kuketahui, segala sesuatu yang kulakukan.” Pasung Jiwa; hal. 9.

Pertanyaan mulai bermunculan setelahnya. Apakah Pasung Jiwa berarti raga dan ruhnya sedang tidak sejalan? Lalu, bagaimana selajutnya, apakah harus memisahkan antara ruh dan raga? Kalau seperti itu, bukannya sama saja menyerah pada kematian?

Sudut Pandang Penceritaan

Novel ini menggunakan sudut pandang orang pertama, namun pembaca harus jeli karena setiap babnya ada pencerita atau narator yang berbeda. Aku atau Ku bisa berarti orang yang berbeda. Jadi, tetap fokus saat membaca.

Gaya Bahasa

Dari segi bahasa, saya bisa sebutkan ini khas gaya Mbak Okky. Tulisanya tegas, lugas, tidak bertele-tele, dan berani. Gaya yang sama juga saya temukan di berbagai tulisan Mbak Okky, baik cerpen ataupun esainya. Beberapa bulan sebelum membaca novel Pasung Jiwa, saya sudah lebih dulu menikmati hampir semua esai dan cerpennya melalui situs web www.okkymadasari.net

Teman-teman yang merespon postingan saya di instagram ada yang mengatakan kalau buku ini temanya berat. Mungkin benar karena tema tentang jiwa masih jarang ditemui. Tapi jangan khawatir bahasa yang Mbak Okky gunakan adalah bahasa yang umum dipakai, ringan, mengalir, mudah dipahami, dan lugas.

Diantara semua ke-khasan penulisannya, ‘berani’ menjadi satu hal yang paling saya acungi jempol. Caranya mengungkap hal-hal yang awalnya mungkin dianggap tabu, dieksekusinya dengan begitu mulus dan mengena. Seperti tentang kontradiksi manusia dan keyakinannya, tentang prostitusi, aborsi, kelabilan jiwa, gender, ketidakpercayaan diri sampai fase bunuh diri yang termasuk ranah amat sensitif.

Alur Waktu Penceritaan

Mbak Okky membuka cerita saat tokoh berada di suatu masa tahun 2003. Selanjutnya cerita menggunakan alur maju dengan rentang masa dari tahun 1993 – 2003.

Pasung Jiwa dan Kaitannya dengan Self Respect.

Saya terkesan dengan tulisan Mba Okky di akun instagramnya yang membahas tentang Self Respect. Tulisan yang terilhami oleh Joan Didion, 1961, melalui esainya di Vogue berjudul, “Self Respect: Its source, its power.”

Self Respect menekankan pada karakter seseorang untuk berani mengambil keputusan sekaligus betanggungjawab atas setiap keputusan tersebut. Langkah aktif mengubah diri sebagai bentuk penghargaan kita terhadap diri sendiri. Self Respect membuat kita sadar bahwa kita punya kekuatan, kita punya nilai, punya harga, kita berhak memilih, pilihan yang tidak hanya memikirkan sesuatu tentang dirinya saja namun juga memperhatikan apa yang ada di luar diri.

Elemen Self Respect tersebut saya temukan dalam sosok karakter pada novel Pasung Jiwa. Mereka bergerak aktif mencari kebebasan yang betul – betul diinginkannya.

Raga dan Ruh adalah dua elemen yang berbeda. Terkadang, keduanya saling mendukung, melengkapi, namun tak jarang saling berbenturan, mengalahkan satu sama lain. Sisi tersebut yang lebih dulu saya tangkap saat membaca pertarungan batin yang dialami Sasana dan Jaka Wani. Durasi membaca yang hampir sebulan, betul-betul saya nikmati setiap lembarnya. Tiap konflik terasa nyata, membuat sedih, kesal, marah, muak, hingga bahagia dalam bentuk kebebasan di titik akhir.

Jiwa yang bebas adalah jiwa yang bahagia. Membahagiakan diri adalah bentuk bahwa kita menghargai hidup yang diberikan-Nya.

“Tak ada yang bisa melarang apa yang kami lakukan. Tak ada yang bisa mengatur apa yang harus kami lakukan. Ini hidup kami. Ini kebebasan kami.” Pasung Jiwa; hal. 321

Karakter

Karakter yang dihadirkan Mba Okky ada pada porsi yang tepat. Tidak teralu banyak atau sebaliknya. Tokoh-tokoh tersebut hadir dengan karakternya sendiri-sendiri. Mereka ada bukan hanya pelengkap, mereka membantu tokoh utama dalam menggerakkan cerita, mengantarkan pesan dan kesan pada kami para pembaca.

Instagram mina.megawati
  1. Sasana – Sasa
Instagram mina.megawati

Sasana lahir dari keluarga yang berkecukupan. Ibunya seorang dokter bedah dan ayahnya pengacara. Sejak kecil dia sudah diperkenalkan alat musik piano oleh ayah dan ibunya. Bagi mereka piano adalah alat musik bergengsi. Sasana tumbuh menjadi pemain piano yang baik, namun jauh di dalam dirinya dia menyukai musih dangdut.

Di sinilah konflik dimulai. Kontra musik kesukaan, lalu Sasana yang mulai mendambakan ingin punya tubuh dan barang-barang seperti adiknya, Melati. Jiwanya memberontak.

Pergulatan batin yang membawa Sasana masuk pada berbagai fase kehidupan. Mulai dari sekolah khusus pria, kuliah yang tak kunjung selesai, pertemuan dan pertikaian dengan Cak Jek (Jaka Wani), sampai akhirnya ada di titik kebebasan.

2. Jaka Wani – Cak Jek

Instagram mina.megawati

Jaka Wani (Cak Jek) Jaka Wani memiliki latar kehidupan yang berbeda dari Sasana. Dia lahir di kota Malang, miskin dan hanya memiliki ibu dan seorang kakak yang bekerja sebagai buruh pabrik di Batam.

Passion Cak Jek ada pada musik. Itu juga yang mempertemukannya dengan Sasana dan menjadikannya seorang Sasa.

Perjalanan kehidupan mereka tak mulus, mulai dari penangkapan aparat di Surabaya, terlempar ke Batam, menjadi bagian laskar jihad, sampai berani memutuskan untuk menjadi manusia yang bebas.

Saat Jaka Wani memutuskan untuk bergabung dengan laskar jihad, itulah bagian yang paling menguras rasa kesal saya. Kesal dengan Jaka Wani dan mereka yang menggunakan agama untuk mencapai kepentingannya.

3. Masita

Instagram mina.megawati

“Tak ada jiwa yang bermasalah, yang bermasalah adalah hal-hal yang ada di luar jiwa itu.” Percakapa Masita dan Sasana, Pasung Jiwa; hal; 140.

Masita sebagai perawat Sasana selama di RSJ. Dia menjadi perawat, teman bicara yang baik sampai memberi celah sampai Sasana bisa membebaskan diri dari kungkungan rumah sakit jiwa.

4. Elis

Instagram mina.megawati

Seorang pekerja seks komersial di kota Batam. Pertemuannya dengan Jaka Wani menjadi awal keruwetan baru dalam hidupnya. Elis adalah orangtua tunggal yang harus menghidupi anak dan ibunya di kampong. Menjadi PSK tentu bukan yang dia inginkan, namun kebutuhan mendesaknya

5. Kalina

Instagram mina.megawati

Seorang buruh pabrik yang bernasib naas. Dia diperkosa mandor pabrik tempatnya bekerja, lalu hamil dan menggugurkannya. Kalina yang geram dengan perlakuan para mandor itu mengajak Jaka Wani untuk menghasut para buruh agar mau melakukan demo. Namun, rencana itu tak mendapat hasil maksimal

6. Ibu Sasana

Instagram mina.megawati

Tokoh ibu Sasana menjadi tokoh yang paling saya kagumi. Sikapnya yang rela menundukkan ego pribadinya dan menerima Sasana membuat pandangan saya yang awalnya kesal menjadi amat mengagumi. Dia bahkan rela meninggalkan suami untuk tinggal bersama Sasana setelah ayahnya mendepaknya dari rumah.

Sungguh cinta tanpa syarat. Ibu Sasana terus berada di sampingnya meski dalam kondisi terpuruk ulit sekalipun.

7. Banua

Instagram mina.megawati

“Pikiranku sebenarnya bukan punyaku. Ini pikiran banyak orang yang kebetulan saja ada dalam diriku.” Percakapan Sasana dan Banua, Pasung Jiwa; hal. 137.

Teman Sasana di RSJ ini akhirnya memilih jalan kebebasannya sendiri.

Novel Ini Direkomendasikan Untuk

Buku ini saya rekomendasikan bagi kalian yang seringkali merasa bingung, meratapi kehidupan, terlalu banyak mengeluh hal-hal sepele, terlalu sensitif, dan fanatisme yang berlebih. Pengalaman demi pengalaman yang dialami kedua tokoh utama akan membuka kesadaran diri bahwa di luar sana, di luar diri kita ada yang berjuang, bergulat dengan dirinya sendiri.

Perjuangan yang tak serta merta didukung oleh keadaan tapi justru ditentang. Sasana yang terlihat sempurna di luar, memiliki keluarga berkecukupan, hidup tanpa kekurangan, orangtua yang lengkap, keluarga yang utuh pun masih melewati masa sulit dalam hidupnya. Apalagi kehidupan Jaka Wani yang tak beruntung dari segi ekonomi, dihantam pula dengan kenyataan kalau pilihannya selalu tak membawanya ke jalan yang mulus.

Muatan adegan dewasa di dalamnya membuat kalian yang belum cukup umur perlu pendampingan orangtua ya.

Selamat Membaca, Selamat memperjuangkan kebebasan kita.

***

Judul Buku : Pasung Jiwa

Penulis : Okky Madasari

Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama

ISBN : 978 – 602 – 03 – 222 – 9

Cetakan Pertama : Oktober 2015

Cetakan Kedua : April 2016

Tebal Halaman :  328 Halaman

15 thoughts on “Resensi Novel : Pasung Jiwa – Manusia dan Sebuah Usaha Menemukan Kebebasan”

  1. Mporatne says:

    Konflik permasalahan mengenai gangguan jiwa merupakan bagian kehidupan manusia. Lewat novel pasung jiwa banyak belajar bahwa hidup tidak semanis madu tapi ada takdir yang yang harus kita lalui dengan tegar

    1. mega says:

      Betul Mba. Konflik yang dialami tokoh relate banget dengan kehidupan kita.

  2. Judulnya bikin pingin baca

    reviewnya nambah penasaran, ada di ipusnas gak ya, cari ah

    1. mega says:

      Ada Ambu… awalnya saya juga baca sedikit di Ipusnas. Tapi karena lebih sreg buku fisik akhirnya sampe tamat pakai buku cetak😄😄

  3. nurulrahma says:

    Okky Madasari ini keren banget ya Kak
    Setiap memroduksi karya, doi riset yg sangat detail kayaknya
    jadi baguuuss karakter, konflik, dllnya

    1. Mega says:

      Penulis favoritku seantero jagad ini mbaaaa🥰🥰🥰

    2. mega says:

      Pastinya Kak. Karena konflik yang dihadirkan memang relevan dengan keseharian. Fiksi yang bergizi dan terasa nyata.

  4. Mgkin kalau utk saya agak berat nih novelnya, hehehe. Namun ada banyak pelajaran hidup yang bisa dipetik ya mbak dalam kisah novel ini. Apalagi mba bilang cocok utk org yg banyak mengeluh.

    1. mega says:

      Yup, tiap bacaan baiknya disesuikan dengan kebutuhan, Mba. Apalagi baca 300 halaman ++ ya kudu dapet sesuatu setelahnya😉😉

  5. Nanik Nara says:

    Hehehe bingung antara memilih Entrok dan Martabat Kematian malah akhirnya menjatuhkan pilihan pada Pasung Jiwa.

    Dan ternyata pilihan yang tepat ya mbak, karena mendapatkan bacaan yang berkualitas

    1. Mega says:

      Iya mbaa… Pasung Jiwa hadiah ultah dari adikku. Dia tau, I need it. Pas waktu itu kondisi hati lagi kurang baik.
      Isinya betul-betul bisa jadi pelajaran🥰

  6. Nia Haryanto says:

    Aku suka dengan tulisan-tulisan Okky Madasari. Tapi belom pernah baca bukunya. Kayaknya seru deh ini. Udah lama juga aku gak baca novel. Seringnya baca cerpen aja. kepengen baca buku utuhnya deh ih.

  7. Penulis favoritku Okky Madasari, keren ya … , kapan ya aku bisa jadi penulis handal seperti Okky Madasari hihihi …

    1. mega says:

      Sama kita. Saya suka Mba Okky awalnya baca esainya ehhh kepincut pula dengan cerpen dan novelnya…

  8. Fania surya says:

    Wah ini novelnya okki ya. Jadi pengen baca bukunya. Bikin tertarik buat baca. Temanya bagus nih tentang jiwa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *