Puasa Tiga Tingkat

Puasa Tiga Tingkat post thumbnail image

“Pa, Ma, untuk apa sih kita puasa?” pertanyaan yang biasa dilontarkan seorang anak pada orangtuanya kala Ramadan tiba. Hal itu muncul karena anak-anak bingung, kenapa sih harus menyiksa diri tanpa makan dan minum selama hampir dua belas jam?

Pertanyaan yang ternyata masih saja muncul hingga saat ini, “Kenapa harus puasa?” padahal kita punya makanan, “Kenapa harus menahan marah?” padahal kadang kita perlu untuk meluapkannya, “Kenapa harus berbagi?” padahal di luar sana banyak yang hidup tanpa punya kepedulian.

Beberapa pertayaan krusial tentang esensi puasa, bisa saja berdampak pada psikologis apabila tidak kunjung mendapat jawaban yang masuk akal.

Achmad Chodjim dalam bukunya, Syekh Siti Jenar Makna “Kematian”, menyebut tentang “Islam Esoteris” dalam kalimat pengantarnya, biasa juga diulas Prof Dr. Nurcholis Majid yang berarti Islam dipahami melebihi simbol-simbolnya. Islam dipahami dalam arti melebihi segi lahiriah (syariat), tetapi memasuki segi yang lebih mendalam-segi realitas tinggi (high reality) yang bersifat batin. Islam Esoteris inilah Islamnya Syekh Siti Jenar.

www.minamegawati.com

Menurut paham Islam Esoteris, manusia terdiri dari tiga unsur bertingkat, yaitu jasmani, nafsani, dan rohani. Tingkat terendah adalah jasmani, yaitu fisik, badan atau tubuh manusia yang kelihatan sehari-hari (lahiriah). Tingkat yang lebih tinggi disebut nafsani, yaitu unsur manusia bersifat nafs, jiwa atau psikologi. Segi ini tidak lagi bersifat jasmaniah, tetapi sudah mulai batiniah, berkaitan dengan pikiran manusia (human mind). Tingkat yang paling tinggi adalah ruhaniah (roh) atau spirit.

Lalu, apa kaitan Islam Esoteris dengan kekalutan tentang esensi puasa yang masih juga dipertanyakan?

Mari kita coba membagi tingkatan puasa ke dalam tiga tingkat tersebut. Pertama; Puasa Jasmani (fisik), yang ditandai dengan tidak makan dan tidak minum. Kedua; Puasa Nafsani (jiwa, psikologi), yang ditandai dengan mempuasakan diri dari pikiran-pikiran negatif. Ketiga; Puasa Ruhaniah (roh) atau spirit, ditandai dengan meningkatnya sisi ketakwaan diri, ‘meletakkan’ segala yang bersifat keduniawian.

Ada baiknya untuk coba melihat ke dalam lalu menelaah diri kira-kira puasa kita ada di tingkat mana? Apakah puasa kita masih sebatas fisik, yang masih kebingungan saat melihat restoran favorit buka? atau sudah menuju tingkat nafsani, yang sudah bisa mengontrol keinginan ghibah dan fitnah? atau bisa saja tanpa disadari keistiqamahan sudah membawa kita mencapai ke tingkat ruhaniah (roh)?

Setelah penelahaan mendalam tentang tiga tingkatan puasa di atas, bisa saja pertanyaan kita berubah bukan lagi untuk apa kita berpuasa? tapi sudah ditingkat mana puasa yang kini sedang kita jalankan?

Baca juga esai lainnya; Pandemi, Kesunyian Bali dan Esensi Catur Brata Penyepian.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Post