Miss You

Miss You post thumbnail image

Semalam, oximeter papa menunjukkan angka 89. Kondisinya kritis! Kuraih tangannya memastikan aku tak salah lihat. Dokter yang memantau isoman kami, mengingatkan kalau 92 itu range terbawah untuk kondisi oksigen dalam darah. Dua hari lalu, kami dinyatakan positif. Nenek yang tinggal beberapa blok dari rumah kami, tak dibolehkan menjenguk karena khawatir tertuar. Namun, kami tetap saling bertukar kabar melalui video call. “Miss you, nek,” kataku padanya malam itu.

Dalam ketidakberdayaan, aku mengajak mama yang masih tersadar untuk tahajud bersama. Air mataku tak henti menetes. Aku hanya minta satu hal sama Allah, “Ya Allah, tolong sembuhkan kami. Kasih aku satu kesempatan lagi untuk bisa berbakti pada mereka. Hamba janji akan jadi anak baik. Janj..”

Mama tertunduk layu memandangi pusara yang masih basah. “Relakan ya, Ma,” bisikku lirih. Kami merangkul pundaknya, meyakinkannya bahwa dia tidak sendiri. Qadarullah. Allah Mahatahu. Dia ijabah doaku, namun kehendak lain harus diterima mama. Nenek pergi secara mendadak, mama tak siap. Aku dan papa masih di sini untuk menguatkan mama. “I’ll always miss you, nek,” kataku mengiringi kepergiannya.

Baca juga esai : Puasa Tiga Tingkat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *