Perempuan Tanpa Pasung Aksara

Perempuan Tanpa Pasung Aksara post thumbnail image

Di mana penulis selama masa pandemi? Mereka ada di mana-mana, menyuarakan keadaan dari berbagai sektor dengan cara dan melalui media yang mereka yakini akan didengar.

Mereka berbondong mengemas aksara dalam ragam bentuk mulai dari ulasan singkat di media sosial, tulisan di blog pribadi, cerita pendek, novel, esai, puisi dan naskah-naskah drama hanya untuk satu alasan, didengarkan.

Beragam cerita hadir selama masa krisis. Sebuah cerita tentang pengalaman hidup, ketidakadilan, kezaliman, keterpurukan serta gejala ketidaksiapan menghadapi perubahan yang datang tanpa aba-aba. Kisah yang mungkin tabu untuk diumbar, namun sakit bila disimpan. Mereka yang tertimpa ketidakadilan, sebagai akibat perlakukan pihak-pihak yang merasa berkuasa menjadikan diam, bungkam sebagai pilihan terbaiknya.

Lalu, apakah pilihan bungkam akan menjadikan anak cucu kita tahu pandemi ini secara gamblang? Mereka membutuhkan informasi yang jelas tentang bagaimana ayah ibunya nelangsa akibat di PHK, tentang keterbukaan bagaimana kakek, nenek, atau saudara mereka mati karena korban keganasan virus. Mereka yang esok pagi bangun dan menyaksikan tubuh kaku orang terkasih, tubuh yang sudah terbungkus plastik tanpa bisa disentuh.

Suaramu mungkin sudah parau, lelah meneriaki keadaan yang kian menghimpit, tapi pena itu masih bisa memengaruhi. Menuliskan realitas akan membukakan mata publik tentang keadaan pandemi yang sebenarnya. Bukankah kebebasan bersuara dan berekspresi adalah hak asasi manusia? Hak yang harusnya menjadi alasan kebebasan suara tanpa pernah terpasung.

Bagaimana nasib negeri bila kebebasan bersuara menjadi isu?

Isu kebebasan menyampaikan gagasan melalui tulisan bukan perkara satu dua tahun. Beberapa penulis telah lebih dulu melaluinya mungkin puluhan bahkan ratusan tahun lalu. Bagaimana kita akan tahu kisah perjuangan yang terjadi pada zaman itu, bila tak ada yang berani menuliskannya?

Sebagaimana yang dialami para perempuan 21 April ini, mereka berani melawan arus melawan pasung aksara, keterbatasan dengan tetap menuliskan carut-marut kondisi kolonial penjajahan kala itu dengan cara dan gaya mereka sendiri.  Kondisi yang terjadi jauh sebelum lagu Indonesia Raya dikumandangkan.

***

“Ia hampir dilupakan. Ada yang mencatat tanggal 21 April sebagai tanggal lahirnya, ada juga yang menyebutnya 20 April. Kata-katanya, tulisannya, seperti Kartini, merupakan harapan dan kepedihan perempuan Indonesia yang melawan dan terjepit. Tapi ia bukan Kartini, penuturannya lebih kompleks, lebih intim, lebih terbuka, dan dengan latar yang lebih luas ketimbang surat-surat Habis Gelap Terbitlah Terang. Mungkin karena ia seorang novelis dan seorang aktivis gerakan kebangsaan: Soewarsih Djojopuspito,” dikutip dari artikel “Perempuan di Luar Garis yang Lurus.” Tempo, Catatan Pinggir, Goenawan Mohamad, edisi 21 April 2013.

Soewarsih, begitu mereka mengenal, menyebut dan menuliskan nama perempuan itu pada novelnya, Manusia Bebas. Perempuan yang bersekolah di Sekolah Kartini pada tahun 1918, dia tekun dan pintar. Jadi satu dari dua anak Indonesia yang diterima masuk di kelas yang berisi 30 murid.  Saat gurunya mengajarkan karya-karya Multatuli, saat itu dia merasakan betapa tak adilnya kekuasaan kolonial. “Ketika guruku membacakan sesuatu dari Max Havelar, aku tak lagi merasa sendirian di rumah. Hidupku menjadi bermakna lagi, dan aku tahu ke mana aku harus mengarahkan masa depanku.”

Meskipun Soewarsih berijazah sekolah kolonial, ia memilih jadi guru dengan gaji pas-pasan di sebuah “sekolah liar” – sekolah yang didirikan kaum nasionalis tanpa subsidi gubernemen, sekolah yang murid-muridnya memberi salam kepada bendera. Di sekolah itulah dia bertemu Soegondo Djojopespito.

Nama perempuan yang tak banyak digaungkan, pun tak ada yang memeringati hari lahirnya, tapi publik harus mulai tahu bahwa dialah perempuan Indonesia yang mendukung Soegondo Djojopoespito, pemuda asal Tuban yang merupakan pemimpin Kongres Pemuda tahun 1928. Mereka membuktikan di balik laki-laki sukses, ada perempuan hebat yang senantiasa mendukung. Dialah Soewarsih.

Pengalaman yang tak tenteram tahun 1933-1937, kegagalan yang beruntun, kehilangan pekerjaan ia tuliskan dalam Manusia Bebas, atau lebih tepat “Buiten het Gareel (Di Luar Kekang), versi pertama dalam bahasa Belanda. Novel yang hadir tanpa maksud ‘mendidik’, itu hadir sebagai bentuk emansipasi perempuan, tentang pertanyaan-pertanyaan kehidupan, dengan kata lain Soewarsih membuktikan, kesusastraan bukanlah bangunan ide yang mengarah, tetapi iamajinasi yang berangkat dari dan di dalam pengalaman antara manusia.

Ulasan Aquarini Priyatna, Guru Besar dalam Ilmu Sastra dan Gender Professor, tentang Soewarsih dalam Manusia Bebas. Dia mendokumentasikan hidupnya dengan menuliskan “hal-hal yang sepele dan cetek-cetek.” Tapi dengan yang sepele itu ia mengenal ironi, tentang kebebasan. Ia bicara tentang dan sebagai perempuan, karena dalam novelnya perempuan bukan sebagai sebuah ide besar, bukan sebagai tujuan yang jauh tinggi. Perempuan adalah yang dengan akrab selalu disentuhnya, menyentuhnya.

***

Tak ada Pahlawan tanpa perjuangan. Begitu pun untuk seorang R.A. Kartini. Perempuan 21 April yang hari lahirnya kemudian dikenang sebagai hari Kartini, harinya pencetus Habislah Gelap Terbitlah Terang.

“Gelar Pahlawan tak begitu saja diberikan kepada perempuan asal Jepara ini. Ada yang sempat mempertayakan apakah Kartini betul-betul layak menyandang gelar Pahlawan itu? Jasa apa yang telah diberikannya untuk Indonesia dan mengapa harus kartini, bukan perempuan-perempuan lain di masanya?”

Kartini terus menerima kritik sejak gelar ‘pahlawan nasional’ itu dinobatkan padanya oleh Soekarno pada tahun 1964.  Seorang ahli sejarah, Harsja Bachtiar menyebut Kartini sebagai pahlawan yang dibesarkan Belanda. Menurutnya ada beberapa perempuan lain yang lebih layak menerima sebutan itu antara lain seperti Dewi Sartika, Rohana Kudus di bidang pendidikan dan tokoh emansipasi wanita, Siti Aisyah We Tenriolle dari Sulawesi Selatan.

“Perempuan sebagai pembawa peradaban. Karena dari perempuan orang menerima pendidikan yang pertama – di pangkuan perempuan seorang anak belajar merasa, berpikir dan bicara – saya semakin lama semakin sadar bahwa pendidikan dini bukan tanpa arti penting dalam kehidupan seterusnya. Tapi bagaimana kaum ibu pribumi bisa mendidik anak-anak mereka jika mereka sendiri tidak terdidik?” tulis Kartini. Di sini perjuangan perempuan memasuki fase baru, yang tidak sekadar menuntut pengakuan, tapi justru mengklaim keberadaannya dalam kehidupan bangsa.

Kartini adalah pejuang yang terfokus merawat ‘ruang dalam’. Perjuangannya agar urusan mendidik dan membesarkan anak tidak lagi dianggap sekunder.

Tak ada senjata, akan ada masa yang menyerukan pemberontakan dalam kisah perjuangannya. Semua terhimpun dalam surat-suratnya. Dia menuliskan kita dapat menangkap bahwa politik Kartini adalah soal merawat ‘ruang dalam’ bangsa.

Tulisan yang menggambarkan perjuangan panjang di ‘ruang dalam’ yang belum selesai sekalipun kemerdekaan di ‘ruang luar’ sudah tercapai. Relevansi dari pemikiran dan perbuatannya sangat terasa sekarang saat politik semakin maskulin dan hanya berputar pada soal perebutan kekuasaan dan sumber daya, sementara ‘ruang dalam’ bangsa semakin porak poranda.

Dia yang akhirnya tunduk pada permintaan sang ayah unuk menerima lamaran Bupati Rembang, yang telah beristri tiga, menabrak semua prinsip anti poligami yang teguh dipegangnya. Tapi tidak berarti ia kalah. Perjuangan tak diukur dari beberapa kali seseorang harus tersungkur, tapi keteguhannya untuk terus menapak jalan yang dirintisnya, sekalipun nyawa menjadi taruhan.

Dalam relung hati yang sedih dia menulis, “Dan seandainya aku terlahir kembali ke dunia dan diberi kesempatan memilih, maka aku akan sekali lagi menjadi perempuan.” Kutipan ulasan Hilmar Faris, 2013 dan dimuat di Majalah Tempo, Edisi khusus Kartini April 2013.

***

Para Perempuan 21 April yang tak kenal Pasung Aksara dalam tiap langkah perjuangannya. Mereka berbekal lima keberanian khas perempuan pejuang, diantaranya; Keberanian mengatakan apa yang diinginkan, berani mempertanyakan, berani berbeda, berani membuat keputusan, dan berani menjadi diri sendiri. Langkah keberanian yang baik dijadikan acuan kita para perempuan untuk tak lagi takut menyuarakan ‘ruang dalam’ diri kita meski pandemi masih ada.

“…. penulis tak hanya kreatif, mereka berkeahlian memandang satu hal dari ragam sudut pandang. Pilihan yang membawanya terus berkarya, kapan pun, di mana pun.”

Esai oleh Mina Megawati

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Post