HAMKA Sastra dan Akal yang Berpedoman

HAMKA Sastra dan Akal yang Berpedoman post thumbnail image

“Mengaji Bersama Okky Madasari,” begitu isi postingan instagram Mbak Okky tepat dua hari menjelang  Ramadan. Sejenak terfikir, apa benar Mba Okky mengajar mengaji? Selama ini, kita mengenalnya sebagai penulis dengan beragam genre tulisan mulai cerpen hingga esai. Informasi yang kemudian dipertegasnya melalui instagram story, di sana disebutkan Ini bukan kelas menulis.”

Rasa ingin tahu langsung meletup. Tanpa perlu berfikir ulang langsung mendaftar, dan menanti sesi mengajinya. Hari yang ditunggu tiba, di dalam kelas kami tak menyandang Qur’an. Kami diajak menelaah, mengkaji, mempelajari karya sastra Islami dari empat Sastrawan Indonesia diantaranya:

Hamzah Fansuri

Karya-karya Hamzah tersingkir selama berabad-abad karena dianggap sesat, mengandung unsur politik, dan karena adanya persaingan antar ulama. Syair-syair Hamzah Fansuri ditulis sekitar abad 16-17, menandai lahirnya sastra Melayu sekaligus awal dari penyebaran gagasan sufi di Nusatara. Syair beliau memberi kita pemahaman tentang Tuhan yang begitu dekat dalam diri kita.

HAMKA

Membaca karyanya membuat kita tak bisa lepas dari gagasannya sebagai sosok pemikir dan ulama besar.

A.A. Navis

“Robohnya Surau Kami” adalah sebuah cerita yang mengkritik cara beragama yang terosesi pada surga dan neraka. Sebuah cerita yang semakin relevan untuk dibaca kembali hari ini.

Achdiat Kartamihardja

“Atheis” terbit tahun 1949 menghadirkan pergulatan ideologi, pencarian jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tentang Tuhan, manusia, dan kemanusiaan. Melalui gaya penulisan yang gamblang, novel ini memotret jiwa-jiwa individu yang punya pengetahuan dan kekuatan sekaligus penuh keraguan dan kerapuhan.

***

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia V, kata “mengaji” yang merupakan kata turunan dari “kaji” diberi tiga arti: 1) mendaras (membaca) Al-Qur’an, 2) belajar membaca tulisan Arab atau ilmu agama, 3) belajar; mempelajari.

Makna ketiga yang kemudian menggenapi keyakinan tentang kelas yang sedang diasuh Mba Okky. Kelas ini akan membawa kita pada penelusuran mendalam tentang karya para sastrawan yang juga berhubungan dengan nilai-nilai agama Islam.

Khusus dalam tulisan ini, kita akan menelaah tentang sosok HAMKA dan karya-karya fenomenalnya.

Siapa HAMKA?

Image HAMKA dikutip dari slide presentasi Okky Madasari (23/4/2021)

Nama HAMKA adalah singkatan dari Haji Abdul Malik Karim Amrullah. Beliau terlahir di Sumatra Barat, 17 Februari 1908. Publik mengenalnya sebagai ulama dan sastrawan Indonesia. Untuk memperoleh hal tersebut, Hamka memperluas ilmunya dengan merantau ke Pulau Jawa guna belajar, berlanjut ke Mekah dan berbagai Negara Arab lainnya. Kembali ke tanah air dan tinggal di Deli, lalu ke Medar bekerja sebagai editor Moslem Weekly.  Beliau juga tokoh berpengaruh yang turut membesarkan Muhammadiyah.

Tahun 1955, Hamka terjun ke politik dengan ikut pemilihan umum. Beliau duduk di Kontituante mewakili Masyumi. Sikap Masyumi yang menentang komunisme dan gagasan demokrasi Terpimpin memengaruhi bungannya dengan Presiden Soekarno.

Usai Masyumi dibubarkan sesuai Dekret Preiden 5 Juli 1959, Hamka menerbitkan majalah Panji Masyarakat yang berumur pendek sebagai akibat dibubarkan oleh Soekarno. Meluasnya komunis membuat Hamka dan karya-karyanya diserang organisasi Lekra.

Tahun 1964, dia diciduk karena dituduh melakukan gerakan subversif. Saat itu dia tengah merampungkan Tafsir Al-Azhar dalam kondisi sakit sebagai tahanan. Hamka dibebaskan pada Mei 1966, masa dimana berakhirya kekuasaan Sekarno dan digantikan oleh Orde Baru Soeharto. Tahun 1975 dipilih sebagai Ketua MUI dan memilih meletakkan jabatannya pada 19 Mei 1981, akibat tekanan Menteri Agama untuk menarik fatwa haram MUI atas perayaan Natal bersama bagi umat Muslim. Beliau meninggal di Jakarta 21 Juli 1981, dan dimakamkan di TPU Tanah Kusir.

Karya-karya Terkemuka HAMKA

Menjadi seorang penulis di masa revolusi adalah hal yang tak mudah. Apalagi kalau karya yang dihasilkan dinilai bereberangan dengan pemerintahan yang sedang berjaya.

Dua karya apiknya, Di Bawah Lindungan Ka’bah terbit tahun 1927, dan Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck membuat namanya makin dikenal sebagai sastrawan

Karya-karya beliau sebagian besar bertema percintaan, drama yang disuguhkan amat tragis, mengharu biru, menguras air mata. Pencapaian yang tidak serta merta membuatnya disanjung, dipuji, namun ada juga yang menyebutnya sebagai “seorang alim pengarang novel”. Tentu orang pintar seperti Hamka tidak menulis untuk sebuah kesia-siaan. Ada misi yang disisipkan dalam setiap karya yang dihasilkannya.

Pencapaian Beliau sebagai penerima gelar Doktor Kehormatan dari Universitas Al-Azhar, 1958 dan Doktor Kehormatan National University of Malaysia, 1974 dan juga sebagai Ketua Muhammadiyah, Ketua MUI Pertama.

Apa Saja Pergulatan Sastra yang Pernah Dialaminya?

Pada tahun 1962, Pramoedya Ananta Toer menuduh Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk karya Hamka adalah plagiat. Dia dituduh menjiplak Sous les Tilleuls karya pengarang Perancis  Jean-Baptiste Alphonse Karr yang diambil dari saduran penyair Mustafa Luthfi Al-Manfaluthi, Majdulin atau Magdalena.

Menurut Ismet Fanany, pengajar dan sastrawan Indonesia, seseorang bersalah melakukan plagiat bukan saja kalau ia menyalin begitu saja seluruh buku atau artikel orang lain, tapi juga saat dia menyalin gagasan, ide orang lain atau ungkapan yang dipakai orang tersebut. Sesuatu disebut plagiat ketika ide atau karya tersebut dibuat ulang secara penuh tanpa melalui proses swasunting,  lalu diakui sebagai ide dan karyanya sendiri.

HB Jassin, seorang pengarang, penyunting dan kritikus sastra, berpendapat bahwa Hamka terinspirasi atas apa yang dia baca. Siapa pun bisa terinspirasi dari apa yang dibacanya, bukan. Karena betul adanya kalau asupan (bacaan) penulis, bisa begitu memengaruhi cara dan gayanya dalam berkarya.

Goenawan Muhammad, juga memberikan pendapat yang serupa bahwa seorang sastrawan yang juga banyak membaca dan mengamati karya pendahulunya, bisa saja mendapat ilham dari hal-hal tersebut.

Tuduhan Pram tidak murni tentang karya sastra yang ditulis Hamka, namun ada unsur politik yang mendasarinya. Pram yang merupakan pendukung Lekra bersebrangan paham dengan Hamka. Lentera Bintang Timur adalah media yang mem-blow up perkara tersebut. Itulah mula debat sastra panas sekitar selama kurun tiga tahun hingga 1965. Sastra telah ditunggangi oleh kepentingan politik suatu golongan. Kontes perdebatan yang tentunya punya maksud menjatuhkan lawan dengan cara-cara yang tidak etis.

Bahkan ada juga yang menyidir Hamka dengan sebutan, “Seorang alim pengarang novel” Itulah perjuangan seorang sastrawan, tak hanya mendapat pujian, namun bersiap dengan hinaan.

Beberapa Pandangannya Tentang Isu Sosial di Masyarakat

Image dikutip dari slide presentasi Okky Madasari (23/4/2021)

Beberapa pesan yang hendak disampaikan dalam karyanya antara lain:

  • Akal yang Berpedoman

Orang yang inteleknya lurus dan menggunakan akalnya demi kebaikan, itulah yang disebut Akhlakul Karimah. Akal seseorang membentuk cara seseorang berpikir tentang dirinya sendiri dan hal-hal di sekitarnya.

  • Islam dan Adat

Hamka mengkritik adat istiadat yang tak sejalan dengan Islam dan akal yang berpedoman. Dia mengkritik taklid buta karena inilah yang menghalangi umat menuju kemajuan.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia V, kata “tak.lid” artinya: keyakinan atau kepercayaan kepada suatu paham (pendapat) ahli hukum yang udah-sudah tanpa mengetahui dasar atau alasannya: peniruan.

  • Perempuan

Hamka menolak budaya Poligami yang saat itu dinilai biasa saja oleh masyarakat tempatnya berasal. Dia menjunjung tinggi kesetaraan, mengkritik perkawinan yang asal sah secara agama yang juga Anti Poligami

Mengkritik Feminisme sekuler, karena keluar dari kaidah beragama.

Menghadirkan narasi baru tentang perempuan, dia pun berperan dalam mendorong peran perempuan di ruang publik dan di sektor ekonomi.

  • Anti Marxisme-Komunis

Pada tahun 1923, pergaukan murid-murid sekolah agama mengalami goncangan. Itu terjadi akibat guru-guru pulang dari perlawatan ke Tanah Jawa telah membawa paham “merah” (komunis), ehingga sebagian besar murid-murid kemasukan paham itu.

  • Kritik

Karya sastra Hamka menyodorkan impian ynag menjadi cikal bakal impian-impian dalam karya kontemporer: Perjalanan ke negeri jauh, Orang miskinyang berhasil menjadi kaya.

Alasan Mengapa Karya Hamka Laik untuk Dibaca

  • Beliau melakukan syiar agama Islam melalui cara storytelling. Setiap tulisannya mengandung pesan mendalam perihal agama dan isu sosial yang menggelisahkan hatinya.
  • Sederhana dan berakal adalah kunci gagasan Hamka.
  • Ada harapan dan semangat d balik setiap tulisan beliau.
  • Memperluas sudut pandang akan Islam.
  • Memberi ruang perubahan bagi kita para perempuan.
  • Hamka menjunjung kesetaraan laki-laki dan perempuan.
  • Beliau hadir dengan menyodorkan gagasan “akal berpedoman”. Penggunaan akal yang dipandu akhlak.

***

Peserta Mengaji Bersama Okky Madasari

Gimana seru kan pembahasannya? Jujur, ini sangat mematik dan menggugah rasa ingin tahu untuk lebih banyak membaca karya-karya Buya Hamka.

Mengaji Bersama Okky Madasari, masih ada dua sesi lagi lho teman-teman. Mari ikut belajar bersama kami, tuntaskan rasa penasaranmu dengan klik link berikut bit.ly/3d3EFT5

Tanggal 30 April jadwal A.A. Navis, lalu sesi terakhir 7 Mei ada Achdiat Kartamihardja.

7 thoughts on “HAMKA Sastra dan Akal yang Berpedoman”

  1. Moch. Ferry says:

    Seorang tokoh dan cendekiawan muslim buya Hamka, aktif menulis dan karyanya melekat sampai sekarang

  2. Kalau bicara soal Buya Hamka, hati ini selalu bergetar. Akhlatul Karimah dan panutan sepanjang masa. Pemikiran beliau soal Taqlid Buta adalah salah satu hal yang selalu saya ingat. Apalagi di jaman sekarang, dimana banyak orang yang menggilai seseorang tanpa melihat dengan mata kepala dan pemikiran terbuka. Logika tertinggal hanya karena rasa, harta dan kedudukan.

  3. Mia Yunita says:

    Buya Hamka menurutku sosok yang luar biasa. Beliau paham Islam dan karya-karyanya penuh dengan pesan Islami sesuai dengan yang beliau pahami.

  4. Nanik Nara says:

    Dari keempat sastrawan itu baru 2 bukunya yang sudah saya baca. Robohnya Surau Kami karya A A Navis dan Tasawuf Modern karya Hamka.

  5. Fenni Bungsu says:

    Kegiatan tersebut kitanya belajar tentang sastra lebih dalam lagi dan menggalinya. Walau pernah dulu ada debat sastra tapi justru jadi pembelajaran ya.

  6. wah kajian yang kereeennnn….
    Kalau dapat undangan, saya pasti ikut
    Tulisan tentang mereka memang bertebaran, tapi beda lagi dengan kajian
    Kita bisa kupas tuntas , pastinya asyik banget

  7. Tanti Amelia says:

    Bicara ke 4 pujangga besar di atas, merinding rasanya. Bayangkan, di era keterbatasan, mereka bisa menghasilkan karya luar biasa yang dikenang hingga kini.

    Keempatnya break the boundaries!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Post