Resensi Cerpen Penjual Es Lilin; Kumcer “Di Dalam Lembah Kehidupan” Karya HAMKA

Resensi Cerpen Penjual Es Lilin; Kumcer “Di Dalam Lembah Kehidupan” Karya HAMKA post thumbnail image

Di Dalam Lembah Kehidupan ini adalah kumpulan air mata, kesedihan, dan rintihan yang diderita oleh segolongan manusia di muka bumi ini. Air mata yang jatuh tanpa ada yang peduli. Bagaimana mereka mau peduli, karena orang-orang sedang disibukkan oleh kesenangan dan kemewahan.

Cerpen Penjual Es Lilin ini laik dibaca oleh para gadis yang hendak berumah tangga, oleh para bujang yang sudah merasa cukup untuk menikah, pun sangat baik dibaca oleh kita yang telah menikah.

Melalui cara berceritanya yang khas dengan bersuara melayu, dengan gaya puitis, Hamka hendak menyampaikan isu sosial terutama tentang kesenjangan atau perbedaan visi dan misi antara suami istri. Disebutnya, “Kalaulah menikah itu ibarat berlayar, maka mereka harus punya tujuan yang sama. Jangan sampai satu hendak ke hulu dan yang lainnya keras keinginan ke hilir.”

Sumber Instagram @mina.megawati

Beberapa Hal Menarik dari Cerpen Penjual Es Lilin:

  • Perbedaan Cara Pandang Dua Tokoh Utama (Syarif dan Mala)

Perbedaan ini yang kemudian dirajut Hamka sebagai sumber konflik dalam cerita, jadi alat menyampaian isu sosial, sekaligus penyebab keretakan rumah tangga kedua tokoh.

Syarif (tokoh suami) memiliki visi dan misi yang panjang ke depan. Pengaturan keuangan, pendidikan untuk anak-anaknya sudah dia pikirkan sejak baru menikah. Rencana 25-30 tahun ke depan sudah dipikirkan masak-masak. Sedangkan Mala (tokoh istri) memiliki cara berfikir pendek, baginya dapat sekarang ya habiskan saja untuk sekarang. Dia pantang berfikir susah, suka bersenang-senang, selalu mau mengikuti tren terkini.

Syarif tipe laki-laki yang tidak suka berada di keramaian, tidak suka menghamburkan uang, memilih menabung untuk masa depan keluarga. Sebaliknya, Mala merasa wajib untuk mengikuti tren terkini. Setiap ada tontonan baru, dia merasa harus update tak peduli berapa uang yang tersisa.

Syarif lelaki sederhana yang berfikir seputar pekerjaan dan rumah tangganya. Saat memilih Mala, dia yakin kalau Mala yang berpendidikan tinggi, berasal dari keluarga baik-baik pasti akan menjadi istri dan ibu yang baik juga buat anaknya. Mala yang dibekali didikan barat oleh orangtuanya hanya mengambil sisi kulit luarnya saja. Intisari yang ada di dalam didikan itu tak digalinya lebih dalam.

  • Plot Cerita dan Cara Hamka Menyajikan Konflik

Plot cerita pas, tidak terlalu cepat atau lambat. Namun, terlalu detail. Tiap ruang terasa penuh, pembaca tidak punya kesempatan untuk mengembangkan imajinasinya. Semua digambarkan secara gamblang lewat narasi dan dialog.

Twist ada di bagian akhir, saat sosok penjual es lilin muncul dan menjual esnya ke seorang ibu. Bagian ini bikin pilu pembaca sekaligus bertanya apakah pembeli es lilin itu Mala, ibu Sufyan?

  • Diksi Menarik dalam Cerpen Pejual Es Lilin
  1. Muncullah pertikaian pikiran dan haluan di antara sepasang suami istri itu. Terang cuaca akan tersaput awan gelap, bahkan bertukar dengan topan besar di rumah tangga yang baru berdiri itu.
  2. Di sanalah letak neraka hidup yang sejati, sebab walau bagaimanapun kecilnya pencarian di dunia ini, asal suami sejalan dengan istri, sakit sama-sama ditanggung, sukar sama-sama ditempuh dan beruntung sama-sama tertawa maka segala kedukaan tentu akan hilang dengan sendirinya.
  3. Sebab miskin tidak boleh dijadikan alasan untuk bersedih hati dalam kehidupan.
  4. Sejalan adalah asas berumah tangga.
  5. Keutamaan budi pekerti pada masa sekarang ini baru tertulis di kertas saja, belum tertulis di dalam hati manusia.
  6. Si anak merasa bahwa jiwa ibunya tidak dekat benar kepadnya sebab itu dia pun hanya memandang dengan sudut mata pula kepada ibunya.
  7. Biasanya orang sabar itu, apabila dia ditimpa cobaan yang lebih dari semestinya, tidak segan dia membalas dengan kejinya.
  8. Bahwa dunia ini tempat mausia bersuka ria, beriang-riang, tidak boleh termenung. Allah mengutus nabi-nabi ka alam ini akan jadi suluh kepada kita sekalian, sehingga segala maskapai didirikan orang untuk mencari duit  dan perempuan jadi keparat, laknat, kafir, kutuk, cis.

***

Buku Kumpulan Cerpen Di Dalam Lembah Kehidupan, recomended untuk pembaca yang menyukai cerpen bernuansa budaya, dengan gaya bahasa melayu, berunsur kritik sosial.

Baca juga resensi cerpen Sendiri-sendiri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Post