Ketemu Passion Sebelum Usia Pensiun

pic by minamegawati

minamegawati.com, “Sist, bantuin aku nemuin passionku dong.”

Kira-kira apa ya reaksi teman-teman apabila mendapat permintaan seperti itu?

Sekilas mungkin terdengar aneh, tapi meminta bantuan teman terdekat untuk menemukan passion bisa jadi alternatif. Teman yang sudah lama mengenal dan mengetahui apa yang sering kita kerjakan bisa membantu menggiring keyakinan kita memilih apa yang betul-betul menjadi minat diri.

Tapi, akan lebih baik kalau kita sendiri yang mencari dan menggali ke dalam diri sendiri passion tersebut. Lebih cepat tentunya akan lebih baik, sebelum masa pensiun tiba. Saat tubuh masih sehat dan kuat untuk beraktifitas.

Mencari passion dengan usaha sendiri ibarat hendak makan, pastinya diri kita yang paling tahu makanan dengan jenis dan rasa seperti apa yang sedang kita inginkan.

Proses menemukan tentunya memerlukan waktu dan usaha yang panjang. Bermodal ketekunan, semangat dan konsistensi untuk tidak mudah menyerah sebelum betul-betul menemukan apa yang diminati.

Awali saja dengan memilah dan memilih beberapa hal yang mungkin kita minati. Lalu, mulai melakukannya secara rutin setiap hari. Tentu tidak hanya sekadar melakukan asal tuntas, namun menikmati ritmenya.

Sayangnya, proses menemukan passion diri sangat menggerus kesabaran. Alhasil baru sampai separuh jalan sudah membuat kita menyerah dan kalah pada kemalasan dan ego diri.

Menurut praktisi plant based food asal Bali, Niki Indrawati, mengatakan, pembentukan kebiasaan baru minimal dilakukan selama minimal 21 hari. Setelahnya meningkat ke 3 bulan, 6 bulan dan setahun. Setelah kurun waktu tersebut hal tersebut akan menjadi kebiasaan baru dalam hidup kita.

Dua puluh satu hari menjadi titik awal yang bisa dijadikan tolak ukur apakah niat kita cukup kuat untuk menjalani satu kegiatan baru.

Robert J.Vallerand, Professor Psycology Universitas Montreal di Kanada, membagi passion menjadi 2 yaitu Passion Harmoni Passion Obsesi.

Passion harmoni merupakan tipe passion yang positif. Dilakukan atas dasar kesenangan, kecintaan, serta seirama dengan kecintaan kita. Contoh saat kita menjalankan hobi dan menjadikannya sebagai sumber penghasilan.

Efeknya pun positif dan lebih teroganisir, memiliki tujuan yang jelas, serta hasil pekerjaan akan lebih teratur dan bisa dievaluasi.

Sedangkan Passion Obsesi, dorongannya berasa dari luar diri. Akan ada paksaan dari pihak luar untuk kita tetap melaksanakannya. Contoh kewajiban bekerja untuk mendapatkan penghasilan untuk mengafkahi keluarga.

Efeknya tidak memiliki kemampuan untuk mengontrol hasil akhir dan hasi tersebut mungkin tidak sesuai dengan keinginan kita.

Mimin sih punya tiga cara andalan yang kiranya bisa dipakai untuk bekal kalian menemukan passion diri.

Beberapa cara sederhana yang mungkin dapat dilakukan seperti:

  • Gali terus satu hal yang begitu kamu minati

Kadang kita mudah sekali terjebak oleh rasa malas dan mudah bosan. Ini yang membuat aktifitas kita seluruhnya dikendalikan pada mood.

Padahal keinginan begitu menggebu diawal, mendadak hilang karena mood yang juga tiba-tiba berubah arah. Kalau sikap seperti ini terus dipelihara, maka akan sulit bagi kakak semua untuk menemukan passion diri.

  • Minat yang akan ditekuni merupakan keinginan diri sendiri

Namanya juga menemukan passion, tentunya harus atas dasar apa yang kita sukai bukan paksaan dari pihak eksternal manapun. Baik orangtua, saudara, kakek, nenek, apalagi orang-orang yang ada di luar lingkup keluarga inti kita.

Kata paksaan saja sudah berkonotasi negatif. Tentu saja itu bervibrasi negatif juga untuk tubuh dan pikiran. Mereka sudah menolak untuk melakukannya secara rutin.

  • Figure Otoritas (Guru, Mentor, Coach)

Kalau kamu tipe yang suka mendapat bimbingan, tentu mencari guru, mentor atau coach akan sangat membantu. Misalkan kamu suka bermain alat musik seperti piano, gitar atau drum.

Tapi tak ingin hanya sekadar memainkan, melainkan ingin mahir secara teknik dan bisa eksplore lebih banyak dengan alat-alat musik tersebut.

Nah, saat itulah kamu perlu bantuan seseorang yang lebih professional di bidangnya.

Ungkapan yang menyebut, ‘Tak ada hasil yang menghianati usaha’ tidak lagi sekadar kata-kata kosong tanpa bukti.

Ketika kita sudah berusaha dengan sebaik-baiknya maka hasil positif juga akan menanti. Seperti kata Oprah Winfrey, “Passion is energy, Feel the better power that comes from focusing on what excites you.”

Selamat menemukan passion sebelum usia pensiun. Selamat menikmati hidup ke arah yang lebih baik. Salam sehat untuk sahabat bunda semuanya.

 

 

 

 

 

Saya Mina Megawati, panggil Bunda Mega. Ibu dari seorang putri dan putra. Blog “Cerita Bunda” merupakan blog khusus tentang Menulis dan Lifestyle. Ini adalah media penampung hobi menulis bunda mulai dari opini, review tontonan dan bacaan, travelling, kuliner sampai tentang kesehatan dan keluarga.

One thought on “Ketemu Passion Sebelum Usia Pensiun

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Previous Post Sundance Film Festival: Asia 2021, Kompetisi Para Filmmakers di Indonesia
Next Post Resensi Kumcer; Tetangga kok Gitu