Review Novel Perahu Kertas

Lagi boring? Enaknya ngapain ya? 
Mau ngopi di luar tapi mager, mau nonton drakor lagi males ber-melow-melow, mau ngajak temen ngobrol eh yang diajak pada sibuk. 
Duh, ngapain dong…? 
Ahaa, baca buku..!

Baca buku juga bisa jadi satu jalan meretas kebosanan, mengatasi beberapa permasalahan dalam hidup kita, misalnya seperti kebuntuan ide, hiburan mudah dan murah, memperkaya wawasan, jalan mendidik anak, mencontohkan hal positif pada keluarga, komunitas dan lingkungan. 

Oke, kalau gitu kali ini kita ngobrolin buku yuk.
Buku ini adalah salah satu buku yang spesial di hidup saya, bukan hanya karena penulisnya adalah seorang yang terkenal tapi karena pesan di dalamnya yang begitu kuat dan mengena di hati.
Judul bukunya Perahu Kertas, karya Ibu Suri Dee Lestari.


Perahu Kertas terbit tahun 2009 setebal 444 halaman. Wow, lumayan tebel lho Bun, terutama buat saya yang tergolong pembaca yang lambat (karena terlalu meresapi tiap kata). 🙂
Buku yang terbit tahun 2009, tapi baru punya keinginan membacanya sebulan lalu, ups. Bukan karena tidak tahu keberadaan buku ini, tapi jujur sebelumnya saya lebih suka baca buku ber-genre nonfiksi tepatnya buku-buku motivasi. Asupan motivasi sangat saya perlukan untuk mempertahankan semangat dan kewarasaran diri dalam melewati quarter life crisis. 
Ketertarikan pada fiksi tepatnya novel dimulai saat diri dihadapkan pada kebekuan dalam satu proses menulis khususnya saat merangkai sebuah cerita supaya mengalir dan hidup.

Membaca novel membuka cakrawala kreatifitas dalam merangkai kata, memperluas imajinasi, dan jadi paham bagaimana mengatur jalannya dialog supaya runut yang membantu penulis menyampaikan ceritanya secara utuh. 
Novel fiksi seperti menggiring pembacanya masuk ke dalam ‘hutan cerita’.
Apabila tidak tuntas membacanya, maka harus siap berada terus dalam ‘belantara’ cerita yang diciptakan penulis tersebut. 
Jadi, sekalinya mulai membaca berarti komitmen untuk menyelesaikannya. Itulah yang terjadi saat saya membaca Perahu Kertas.
Di bab pertama, pada paragraf awal, khususnya pada beberapa kalimat pembuka sudah berhasil membuat saya jatuh hati dan merelakan diri masuk lebih jauh ke dalam belantara ceritanya. 
Penokohannya yang kuat, dialog yang lugas tapi menyentuh, diksi yang menyihir kuat, filosofi hidup yang disisipkan dengan smooth membuat saya rela serelanya memakai jatah waktu istirahat siang atau jam maskeran untuk membaca buku ini. Hehehe…
*** 
Dibuka dengan penggambaran seorang tokoh utama bernama Keenan yang sore itu dia sedang berada di tepi pantai ditemani kanvas, alat lukis, dan secangkir coffee latte yang menghabiskan minggu terakhirya di Amsterdam itu terasa amat kuat dan menyentuh. 
Tergambarkan betapa berat hatinya yang harus kembali ke tanah air untuk meneruskan kuliah mengikuti kehendak sang papa.

Berat langkahnya meninggalkan tempat yang selama ini memberinya kebahagiaan surgawi, sebuah kebebasan untuk menjadi dirinya sendiri, seorang Keenan yang menjadikan melukis sebagai bagian hidupnya.

Sungguh enam tahun yang akan dirindui. Sang Papa tak menyetujui Keenan menekuni dunia melukis. Semua itu bukan tanpa alasan, ada sebuah luka lama yang berusaha ditutup dan dilupakan meski harus mengorbankan minat Keenan pada melukis. 
Takdir menjalankan kuasanya, radar neptunus mempertemukan Keenan dengan sosok Kugy, si gadis ajaib. Tak ada yang salah dengan fisik Kugy, dia mungil juga cantik. Hanya saja dia berbeda dari gadis pada umumya, dia unik. 
Tak perlu waktu lama bagi Keenan dan Kugy untuk dekat dan kemudian menjadi sahabat. Banyak kecocokan diantara mereka, Keenan suka melukis, Kugy suka menulis dongeng anak. Mereka jadi team yang saling melengkapi. Kugy menulis dongeng anak, Keenan pembuat ilustrasinya, mereka terlihat lengkap. 
Sayangnya, hidup tidak semulus khayalan, banyak liku harus dilewati.

“Ada rasa yang ingin kuungkapkan padanya,” bisik Kugy. 
Kugy yang sudah jatuh cinta entah sejak kapan harus menahan perih ketika jalan cintanya tak semulus jemarinya saat menuliskan dongeng-dongeng anak itu. 
Rasa yang sama juga melanda Keenan, ada rongga kosong dalam hatinya ketika Kugy berada jauh darinya, melewati masa demi masa. 
Seringkali mata dibuat sembab ketika membaca kisah perjalanan Keenan, Kugy dan orang-orang yang membersamai hidup mereka, termasuk Remi dan Luhde. 
Tissue mana tissue! 🙁
***

Beberapa pesan kuat yang terangkai setelah membaca buku ini; 

“Kadang ada satu sebab yang membuat kita harus melakukan sesuatu yang bukan diri kita, semua terjadi atas nama kebutuhan dan tanggung jawab. Sesuatu terjadi entah berapa lama dan sampai kapan, hanya satu yang membuat diri tetap hidup dan ingin melangkah yaitu adanya kepastian bahwa suatu hari akan ada masa saat kita jadi diri kita sendiri.”
“Memiliki anak yang juga suka melukis membuat diri langsung bisa merasakan apa yang dirasa seorang Keenan, tentang pertentangan batin ibunya dan kekerasan kemauan sang ayah.

Novel ini seperti teguran langsung bagi diri saya sebagai pribadi yang utuh juga sebagai ibu yang diingatkan untuk member ruang bagi anak untuk mereka mengenali dirinya sedini mungkin.”
*** 
Gimana bun, jadi pengen baca juga ya? 
Nggak bakal nyesel, alur ceritanya mengalir, banyak hikmah tersisip di dalamnya.
Kalau bunda sendiri, buku apa yang paling berkesan? 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Previous Post Selamat Hari Anak Nasional, 5 Tips Memberi Hak Anak 
Next Post Susah Nulis Atau Susah Komitmennya?