Selamat Hari Anak Nasional, 5 Tips Memberi Hak Anak 

Assalamualaikum Bunda Hebat,

Hallo Bunda, gimana kabarnya? Semoga selalu dalam keadaan sehat ya Bun, Aamiin.

Bunda lagi sibuk apa nih? Lagi masak, nyuci, setrika pakaian, atau lagi ngajarin anak-anak nih bun? Wah, kebayang ya pekerjaan ibu rumah tangga itu full tanpa henti.
Tidak pinter-pinter atur waktu bisa-bisa tak ada waktu istirahat, fisik dan pikiran kita pun jadi tak terurus.
Bener ndak, Bun? Kalau udah begitu mana punya waktu untuk nulis di blog kayak gini ya bun (eh kok jadi curhat, hehehe).
Nyatanya memang seperti itu ya bun, apalagi sekarang anak-anak sekolahnya daring, otomatis peran kita sebagai ibu sangat dibutuhkan untuk mendampingi mereka terutama anak-anak yang masih di sekolah dasar.

Ngobrolin tentang anak-anak, hari ini hari penting mereka lho bun…
Hari penting apa ya? Ayo ada yang bisa nebak?
Hari ini, Hari Anak Nasional atau yang biasa disingkat (HAN), bun. Diperingati setiap tanggal 23 Juli. Satu hari yang dicanangkan pemerintah untuk menjunjung tinggi hak anak-anak kita anak Indonesia.
Seperti yang dilansir tirto.id dalam satu artikelnya bahwa HAN diputuskan oleh Presiden Soeharto melalu keputusan presiden (kepres)-nya tahun 1984.

Hari Anak Nasional dimaknai sebagai kepedulian bangsa terhadap perlindungan anak Indonesia dengan tujuan agar anak-anak bangsa kita tumbuh jadi anak yang sehat, cerdas, ceria, dan berakhlak mulia.
Kira-kira sebagai Ibu apakah kita sudah memberikan hak mereka ya bun? Ini pun pertanyaan buat saya sebagai Ibu.

Pertanyaan ini mengingatkan saya dengan satu peribahasa Polandia dalam buku Dari High Heels ke Sendal Jepit; “Kita punya waktu seumur hidup untuk bekerja tetapi anak-anak hanya akan kecil satu kali saja.”

Peribahasanya deep banget ya bun, satu kalimat yang mengingatkan kita akan hak-hak anak. Kadang saking sibuknya bergelut dengan aktivitas sehari-hari buat kita lupa kalau mereka pun punya hak untuk diperhatikan.

Gimana caranya ya untuk memenuhi hak-hak mereka?

Lima Tips Memberi Hak Anak;


1. Berikan Ruang Bagi Hobi Mereka 
Masa kecil adalah masa yang terjadi satu kali dan waktunya amatlah singkat. Waktu tepat bagi mereka untuk mengenali apa saja hal-hal yang mereka sukai ataupun tidak.

Satu hal yang mungkin saja akan berkembang menjadi profesi mereka kelak di kemudian hari. Sebagai contoh; bunda punya anak yang gemar bernyanyi, fashion, atau mungkin melukis. Jangan anggap remeh apa yang menjadi kesukaan mereka, lalu amati dan lihat perkembangannya.

Kalau hobi itu konsisten dari hari ke hari atau bahkan kelihatan perkembangannya maka sudah dipastikan itulah passion si anak.

Gimana kalau hobinya berubah-ubah?

Nah, di sinilah pentingnya peran bunda untuk mengarahkan. Bantu mereka untuk mengenali apa yang menjadi kesukaan atau mungkin bakat terpendam yang sayang sekali kalau tidak digali sedini mungkin. Anak-anak pasti amat senang mengetahui bundanya perhatian akan apa yang menjadi minatnya, beri ruang seluas-luasnya dan jangan malah diomeli ya bun. Boro-boro menekuni, anak malah takut dan enggan melakukannya lagi.

Memberi ruang juga berarti memberi kesempatan untuk lebih mengembangkan hobinya. Misalnya ada hari atau jam khusus di mana mereka bisa melakukan hobi sepuas-puasnya. Akan lebih baik kalau bunda mengarahkan dengan menggunakan tenaga professional. Misalnya hobi main alat musik bunda ikutkan dia di kelas musik. Hobi melukis atau fashion ikutkan dia di kelas-kelas tersebut.
Kok gitu aja pakai guru sih?
Apa tidak berlebihan?
Menurut saya sih tidak ya bun, karena dengan catatan yang pertama; harus mengikuti kemampuan kita sebagai orang tua, kedua; seorang mentor professional akan mengarahkan anak kita lebih efektif dan efisien.

2. Penuhi Kebutuhan dan Keinginannya 

Kebutuhan dan keinginan sering sulit dibedakan karena perbedaannya yang amat tipis. Di sinilah dituntut kejelian dan ketegasan orangtua menentukan mana yang sifatnya kebutuhan dan mana keinginan.

Namun, sesekali memenuhi keinginan anak merupakan hal yang sah-sah saja asal masih dalam koridor batas kemampuan dan tepat porsi. Karena apapun yang berlebihan akan jadi tak baik, anak jadi manja dan memanfaatkan kondisi tersebut.

Jangankan anak-anak ya bun, kadang kita yang lebih dewasa saja masih sulit mengendalikan keinginan apalagi di era digital yang memudahkan akses ke banyak media. Bikin mupeng (muka pengen, hehe..)
Misalkan; kebutuhan anak-anak mendapat cukup makanan, keinginannya memilih makanan yang disukai. Kedengarannya wajar saja kan karena anak-anak sering punya preference khusus untuk makanan tertentu.
Semuanya sah-sah saja untuk dituruti asalkan mintanya dalam bentuk wajar dan tidak berlebihan ya bun.

3. Luangkan waktu untuk bicara dari hati ke hati

Anak-anak zaman modern seperti sekarang berbeda dengan era kita para orangtuanya. Posisi anak dan orangtua lebih sebagai teman, cara kita berkomunikasi pun tidak bisa selalu dengan nada memerintah (harus ini, harus itu), cara itu udah nggak zaman, nggak ngena ke anak-anak.
Lebih efektif dengan cara meluangkan waktu mengajak mereka bicara, tanyai apa yang bikin mereka terlihat ndak mood belajar, kenapa wajahnya cemberut, enggan ke sekolah, mogok makan, dan beberapa sikap yang kerap memancing nada tinggi orang tua.

4. Jadi Pendengar yang Baik 

Setelah punya waktu untuk mengajak bicara lalu yang terpenting namun masih suka diabaikan yaitu jadilah pendengar yang baik.
Karena garing aja saat kita merasa sudah meluangkan waktu untuk ngobrol dengan mereka tapi isinya obrolan satu arah.
Ayah atau Bunda aja yang nyerocos tanpa jeda, anak tidak dikasih jatahnya bicara. Akibatnya anak jadi makin berontak dan jauh dari kita. Tanpa kita sadari, seringkali jawaban mereka buat kita jadi introspeksi diri dan tau sisi lain tentang diri kita di mata mereka. Iya nggak?

5. Sediakan waktu pergi berdua (makan atau movie date) 

Ada yang bilang anak perempuan itu deketnya sama ayahnya. Mmm siapa bilang? Mereka bisa jauh lebih dekat dan intim dengan ibunya asal kita tau cara mengambil hatinya dengan cara yang positif. Misalnya mengajak mereka makan atau nonton bareng.
Ibu dan anak perempuan yang sering kali bersitegang dikarenakan masing-masing ekspektasi tidak saling terpenuhi.
Ketidakcocokan itu kadang muncul sebagai akibat kurangnya menikmati momen intim berdua. Berdua saja? Iya bun berdua aja tanpa interupsi dari pihak lain.
Untuk tips ini ya kudu disesuaikan waktunya ya bun apalagi punya anak lebih dari satu ya otomatis harus lihai atur waktu supaya sesama saudara tidak timbul rasa iri.

Nah, semoga lima cara itu bisa membantu bunda hebat dalam memenuhi hak-hak anak ya. Kira-kira, bunda-bunda yang lain punya saran apa ya?

Tulis di kolom komentar ya bun, nanti kita bahas bersama.

Terima Kasih.

Selamat Hari Anak Nasional 2020, Love you all.

2 thoughts on “Selamat Hari Anak Nasional, 5 Tips Memberi Hak Anak 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Previous Post Ikuti Hatimu (Follow Your Heart)
Next Post Review Novel Perahu Kertas