Susah Nulis Atau Susah Komitmennya?

“Menulis ya nulis aja.” 
Saat awal-awal mulai menekuni dunia tulis menulis kata-kata itu kerap terdengar bahkan sampai hari ini. 
Ungkapan yang tidak sepenuhnya saya setujui meskipun saat mulai menulis tahun 2017 lalu, metode itulah yang saya terapkan. 
Freewriting atau menulis bebas yaitu Menulis tanpa dibebani dengan kaedah penulisan yang benar, ejaan yang tepat, tanda baca yang benar seakan ‘diizinkan’ untuk dilanggar. 
Kenapa begitu? 
Sebenarnya itu untuk merangsang minat menulis dengan zero tekanan. 
Apalagi, menulis sendiri bukanlah bakat tapi minat dan keinginan yang kuat. 
Beruntung bila mereka berangkat dari kemampuan berbahasa yang baik, punya minat baca yang tinggi, gemar bereksplorasi dengan berbagai tulisan dan sudut pandang. 
Namun bila tidak, maka teknik freewriting bisa jadi satu awal baik yang memberi harapan. 
Setelah menulis beberapa artikel, berguru dengan banyak mentor saya mulai merasa bahwa menulis saja tidaklah cukup, berikutnya saya perlu meningkatkan mutu saat menyajikan satu tulisan pada pembaca. 
Sajian yang baik tentunya harus didukung dengan beberapa hal yang baik yang sifatnya teknis. Namun, kali ini saya tidak membicarakan hal teknis, kita bicara dulu satu hal mendasar yaitu komitmen dan konsistensi. 
Menulis tanpa 2K (Komitmen dan Konsistensi) tidak akan mungkin berlangsung lama. 
Wah, mulai serius nih pembahasannya. 
Nah, berikut 5 Tips yang bisa menghindarkanmu dari sulit menulis dan sulit berkomitmen; 
1. Tidak punya tujuan yang jelas. 
Melakukan apapun tanpa tujuan yang jelas akan membuat pelakunya cepat merasa bosan, mudah putus asa dan malas menggali lebih dalam. 
Hal ini sih sering dipicu dari kebiasaan yang suka ikut-ikutan. Lagi musim menulis ikut nulis, musim orang jualan ikut jualan, musim pada bikin IG talk yaa ikutan juga. 
Yah kak berarti ndak boleh ikut-ikutan dong? 
Ya boleh aja tapi harus bekali diri dengan tujuan dan arah yang jelas. Mau dibawa kemana aktifitas yang dilakukan? 
Tujuannya untuk apa dan siapa? 
Punyai bekal itu dulu baru deh mulai tekan tombol ‘start-nya’. 
2. Baper
Bawa perasaan; apa-apa dipikirin, apa-apa dirasain terlalu dalam, akhirnya memperlambat bahkan bisa menghentikan langkahmu untuk mencapai sesuatu. 
Mau jadi penulis, tapi artikel dikritik udah mewek, sedih. Mau nulis buku, trus ada yang nyeletuk “Ide lu tuh basi!” langsung deh keder males ngelanjutin. 
Baper sih boleh tapi jangan terlalu dalem, harus rada kebal dikit karena dunia menulisan itu tak hanya indah-indahnya saja kak. 
Ada saat di mana kamu pun harus bersiap untuk menerima feedback paling pedas sekalipun. 
Ungkapan ini karena didasari pengalaman pribadi. Rasanya pedes-pedes sedap gitu, tapi setelah ditelaah lagi ya itulah cobaan untuk tetap nulis dan melatih diri jadi lebih kuat.

3. Kurang percaya diri 
Kurang PD merupakan sambungan dari #2, dari baper berlebih jadi nggak pede. 
Udah nulis banyak artikel tapi malu mau share ke first reader. 
Mau post di sosmed takut sama komen netizen jahat. Padahal tanpa kamu sadari mereka yang komen buruk itu nggak selamanya menilaimu buruk. 
Bisa aja sebenernya mereka ingin jadi sepertimu, yang bisa merangkai kata jadi cerita yang memikat. 
Iya nggak? 
4. Gabung komunitas tapi kok melempem 
Katanya kalau mau sukses menulis kita harus gabung di lingkungan menulis, salah satunya seperti membaurkan diri dalam komunitas menulis. 
Komunitas pun beragam, ada yang pribadi, golongan atau pun pemerintahan. Kamu bisa pilih mana yang sesuai dengan visimu di dunia penulisan, dan mana yang bisa mendukung langkahmu mencapai tujuan. 
Masuk komunitas saja tak cukup lho, kamu juga harus aktif mengikuti agenda kerja yang sudah ditetapkan bersama. 
Kok gitu kak, ribet amat sih? 
Ya, itu kalau kamu mau dan tetap komitmen untuk mencapai tujuanmu dalam hal menulis. Kalau nggak ya udah jadi anggota yang pasif aja, kemuadian jadi silent reader saat ada senior yang sharing materi penulisan. 
Setelah itu, kamu cek sendiri kemampuan menulisamu akan meningkat, stagnan atau malah menurun? 
Intinya sebaik atau sebesar apapun komunitas yang kamu ikuti, tetap menuntut komitmen untuk tekun dan konsisten dalam menjalani setiap prosesnya. Apabila tidak, ya tidak ada hasil apapun yang akan kamu dapatkan dari komunitas itu. 
5. Malas 
Rasa malas kerap menghinggapi mereka yang cepat merasa puas akan pencapaiannya. Merasa diri sudah cukup mendorong diri malas mencoba hal-hal baru termasuk menulis. 
Malas melakukan rutinitas secara konsisten dan enggan diminta untuk berkomitmen. Jangankan diminta menulis, mungkin membaca sharing teman-teman saja sudah malas karena ya itu tadi, merasa diri sudah cukup tinggi. 
Apa kamu nggak sayang dengan usia yang disia-siakan untuk memelihara kemalasan? 
Semoga 5 Tips di atas bisa membantumu keluar dari kesulitan menulis dan komitmen diri. 
Jangan sungkan-sungkan untuk berbagi cerita di kolom komentar ya siapa tau kamu punya tips kece lainnya yang bakal bermanfaat untuk teman-teman yang ingin rutin menulis

3 thoughts on “Susah Nulis Atau Susah Komitmennya?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Previous Post Review Novel Perahu Kertas
Next Post 29 Diksi Paling Memikat dalam Buku Dua Dini Hari